Home / AGAMA / CINTA KEPADA NABI shalallahu alaihi wasallam
Seminar Nasional Abu Umair

CINTA KEPADA NABI shalallahu alaihi wasallam

Setiap insan yang dikarunia cahaya Islam mengaku akan cinta mereka terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Tapi akan kah cinta kita berlandaskan Sunnah? Berpedoman pada cinta para sahabat?

Apakah cinta itu lebih besar dan berharga dari cinta kepada kedua orang tua, anak-anak dan harta kita? Tentunya setelah cinta kita kepada Allah Ta’ala.

Karena Rasulullah sendiri berpesan kepada kita

فوالذي نفسي بيده لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده. رواه البخاري

“Dan demi jiwaku yang ada di tanganNya, tidak beriman salah satu kalian sehingga aku lebih ia cintai daripada orang tua dan anak-anaknya.” (HR.Bukhori).

Dan juga,

لا يؤمن عبد حتى أكون أحب إليه من أهله، و ماله، و الناس أجمعين. رواه مسلم

Tidaklah seorang hamba beriman sehingga saya lebih ia cintai daripada dirinya, keluarganya, hartanya dan dari semua manusia.(HR.Muslim)

Dan sudah sewajarnya kita mencintainya lebih dari orang tua, anak-anak dan harta kita. karena jika bertentangan Allah Ta’ala sendiri  telah mengancamnya dalam Al-Qur’an.

Dia berfirman : 

قُْل إن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalannya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS.At- Taubah : 24)

Maka, Jangan sampai pengakuan kita sebatas lisan   tapi kita tak pernah membuktikannya dengan badan yang dikarunikan Allah untuk beribadah ini.

Banyak yang keliru dalam membuktikan cinta, ada yang membuktikannya lewat pujian-pujian dengan nyanyian yang dikemas dalam konteks islami, ada yang dengan tarian sebagai persembahan cinta terhadap Rasulullah, ada yang dengan merayakan hari kelahiran nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam,  dan banyak lagi cara yang  mereka anggap sebagai bukti cinta mereka terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Namun sadarkah kita pembuktian cinta yang keliru itu justru sangat jauh bertentangan dengan apa yang Rasulullah sendiri maksudkan, bertentangan dengan pembuktian cinta sahabat Rasulullah pada masanya.

Sesungguhnya dalam mencintai nabi shalallahu alaihi wasallam ada tanda-tandanya. Para ulama telah banyak membahasnya. Salah satu contoh yang dijelaskan oleh Qadhi iyadh, ” tanda- tanda mencintainya yaitu menegakkan Sunnahnya, membela syaria’atnya, dan berharap hidupnya kembali lalu ia akan berjuang untuknya dengan jiwa dan hartanya.”

Al-hafiz Ibnu Hajar berkata : ” tanda-tanda cinta Rasulullah shalallahu alaihi wasallam apabila seseorang diberikan pilihan antara kehilangan barang-barang berharga miliknya dengan tidak dapat melihat Nabi shalallahu alaihi wasallam, maka tidak dapat melihat Nabi lebih berat baginya daripada kehilangan barang-barang berharga miliknya.”

Maka bisa kita simpulkan dari pernyataan dua ulama di atas bahwasanya bukti mencintai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam adalah sebagai berikut.

  • Memiliki tekad kuat untuk melihat dan bersahabat dengan Rasulullah.
  • Melaksanakan perintah Rasulullah dan meninggalkan segala bentuk larangannya.
  • Menolong Sunnahnya dan membela syaria’atnya.
  1.  Memiliki tekad kuat untuk melihat dan bersahabat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam

Orang yang memiliki rasa cinta dan rindu di hati senantiasa mendambakan untuk selalu mendampingi kekasihnya,dan  membersamainya kemana pun. dan tidak ingin memalingkan pandangannya kepada orang yang dicintainya. Begitulah sikap para sahabat Rasulullah dikala masanya. Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu yang menangis terharu saat mendapat kesempatan menemani Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berhijrah, dan juga keinginan kuatnya untuk segera menyusul kekasihnya shalallahu alaihi wasallam. Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Aisyah ia berkata, ” ketika abu bakar Radhiyallahu Anhu akan meninggal, dia bertanya, sekarang hari apa?, Mereka menjawab, ” hari Senen”, jika aku meninggal pada malam ini, jangan kalian tunda penguburanku sampai hari esok, sesungguhnya hari yang paling aku sukai adalah hari yang paling dekat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Begitu juga permohonan Rabi’ah Radhiyallahu Anhu agar dapat mendampingi nabi di surga sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam Muslim.

” Pernah suatu ketika aku bermalam bersama Rasulullah lalu aku membawakan air untuk beliau berwudhu dan keperluan lain. Tiba-tiba beliau berkata padaku, “mintalah sesuatu.” Lalu aku menjawab, ” aku mohon dapat menemanimu di surga.” Lalu beliau bertanya, “apa permintaan selain itu?” Aku menjawab, ” hanya itu.” Lantas beliau menjawab, ” bantulah aku untuk memenuhi permintaanmu dengan engkau memperbanyak sujud.”

Begitu juga keinginan kuat Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu untuk dikuburkan di samping kuburan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Lantas sudahkah kita membuktikan cinta kita kepada Rasulullah di poin pertama ini?

  1. Melaksanakan perintah Rasulullah dan meninggalkan segala bentuk larangannya.

Orang yang memiliki cinta di hati terhadap orang yang di cintainya senantiasa mendengarkan dan mewujudkan keinginan kekasihnya dan menjauhkan apa yang tidak disukai kekasihnya. Seperti pepatah Arab,

“إن المُحِب لِمَن يُحِب مُطِيعٌ “

“Sesungguhnya orang yang mencintai terhadap yang di cintai nya mentaati.”

Begitu jugalah yang harus kita lakukan jika kita mengaku mencintai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. mendengarkan beliau, mengikutinya, dan meniru segala perbuatannya dengan begitu kita sudah bisa di artikan mencintai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Sebagaimana yang direalisasikan oleh para sahabat Rasulullah tatkala mendengar kan pengharaman khamar (minuman keras).

Diriwayatkan dari imam Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu ia berkata : ” saya menuangkan minuman buat abu thalhah, Fulan, dan Fulan lalu tiba-tiba datang seorang laki-laki berkata, ” apakah telah datang sebuah berita kepada kalian?” Mereka bertanya, “apa itu?” “Khamar(minuman keras) telah diharamkan.” Jawabnya, lalu mereka berkata, ” wahai Anas, buang semua kendi yang berisi khamar.” Anas melanjutkan, ” mereka tidak bertanya maupun mengecek setelah mendapatkan berita ini.”

Sungguh beginilah bukti cinta sahabat terhadap Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Maukah kita membuktikannya lewat pengamalan Sunnahnya? Seperti mengerjakan shalat Sunnah witir, shalat Dhuha, memelihara jenggot dll.

  1. Menolong Sunnahnya dan membela syaria’atnya. 

Tak hanya cukup membuktikan cinta hanya lewat menegakkan perintahnya dan meninggalkan larangan, namun bukti cinta yang dahsyat adalah berjuang untuk menolong Sunnahnya dan membela syaria’atnya.

Tatkala kita melihat saudara seiman melanggar syari’at yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam maka tugas kita sebagai kekasih Rasulullah senantiasa mengingatkan, dan memperbaiki apa yang keliru dari yang mereka katakan dan serukan. Sungguh tak kan lah lengkap cinta yang kita ikrarkan dalam hati dan ucapkan di lisan tanpa ada pembelaaan terhadap cacian yang di umbarkan oleh orang-orang fasik.

Jika dahulu sahabat Al-Barra Radhiyallahu Anhu menawarkan diri nya untuk dilemparkan kedalam benteng musuh dalam perang yamamah agar dapat membuka pintu bagi kaum muslimin, karena cintanya yang teramat dalam untuk membela syaria’at Islam. Maka, sewajarnyalah kita berusaha membuktikan cinta kita dengan apa yang telah di perlihatkan oleh pendahulu kita yaitu para sahabat.

Oleh : Ust Abu Umair, BA., M. Pd.

__________
Rujukan : 

  1. Shohih Bukhori, kitab Al-imam, bab hubbur Rasulullah minal iman, nomor hadits 14,1/58
  2. Shohih  Muslim 3895,7/8
  3. Syarah An-nawawi  2/16
  4. Al-musnad hadits nomor 45
  5. Shahih Muslim kitab shalat nomor hadits 489,  1/353
  6. Shahih Bukhori, kitab at-tafsir nomor hadits 4617, 8/277

About abuumair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

MENGENAL SEBELUM MENIKAH

Saling mengenal satu dengan yang lain adalah perkara urgen ...