Home / AGAMA / KALIMAT TAUHID PUSAT PERADABAN (2)

KALIMAT TAUHID PUSAT PERADABAN (2)

Ketiga, Tauhid Adalah Kunci Diterimanya Amal Ibadah Seseorang.

Syarat diterimanya ibadah seseorang adalah pertama ikhlas dan tidak menyekutukan Allah. Kedua mengikuti petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antara syarat diterimanya amal yang pertama adalah amalan tersebut ikhlas. Ikhlas adalah melakukan amal ibadah karena Allah ta’ala bukan karena dunia dan sebagainya. Amalan tersebut juga tidak tercampuri kesyirikan sama sekali. Apabila kita melakukan kesyirikan maka amalan yang kita lakukan bisa sia-sia. Allah ta’ala berfirman

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”(QS. Az–Zumar: 65).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam Al Qawa’id Al-Arba mengatakan bahwa sesungguhnya ibadah tidaklah disebut ibadah kecuali dengan tauhid (memurnikan ibadah kepada Allah semata). Sebagaimana shalat tidaklah disebut shalat kecuali dalam keadaan thaharah (bersuci). Apabila syirik masuk dalam ibadah tadi, maka ibadah itu batal. Sebagaimana hadats masuk dalam thaharah.

Keempat, tauhid adalah sebab seseorang mendapatkan syafa’at nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tauhid adalah sebab mendapatkan syafa’at Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuberkata, ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يا رسولَ اللهِ ، مَن أسعَدُ الناسِ بشَفاعتِك يومَ القيامةِ ؟ قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : لقد ظنَنتُ – يا أبا هُرَيرَةَ – أن لا يَسأَلَني عن هذا الحديثِ أحدٌ أولَ منك ، لمِا رأيتُ من حِرصِك على الحديثِ ، أسعَدُ الناسِ بشَفاعَتي يومَ القيامةِ ، مَن قال لا إلهَ إلا اللهُ ، خالصًا من قلبِه ، أو نفسِه.

“Katakanlah wahai Rasulullah, siapa yang berbahagia karena mendapat syafa’atmu pada hari kiamat kelak?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab, “Wahai Abu Hurairah, aku merasa tidak ada yang bertanya kepadaku tentang hal ini selain engkau. Yang aku lihat, ini karena semangatmu mempelajari hadits. Yang berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya.” (HR. Bukhari, no. 99)[1]

Hadits tersebut menjadi dalil bahwasanya orang yang benar-benar bertauhid, memperhatikan konsekuensinya, dan mengamalkan tauhid adalah orang yang berpeluang untuk mendapatkan syafaat nabi di hari kiamat.

Banyak orang mengaku cinta rasul dan mengharap syafaatnya akan tetapi tidak sedikit didapati di antara mereka ada yang menyembah kubur, membuat sesajen untuk jin-jin tertentu, menyembah batu dsb. Lalu bagaimanakah ia bisa mendapatkan syafaat? Maka sudah sepatutnya orang yang menginginkan syafaat harus mewujudkan tauhid di dalam sanubarinya.

Semoga kita dapat menjadi hamba-hamba Allah yang betul-betul bertauhid. Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi diri kami pribadi juga bagi jamaah sekalian.

 

Penyusun;

Adyan Surya Atmaja

Muroja’ah

Ust. Abu Umair, BA., S. Pd. I., M. Pd.

 

 

______________________________________________

[1] dikutip dari https://rumaysho.com/18082-tsalatsatul-ushul-pentingnya-belajar-tauhid.html

About abuumair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

ANTARA WANITA DAN NERAKA

بسم الله الرحمن الرحيم الســـلام عليــكم ورحــمة اﻟلّـہ وبركاته ...