Home / AGAMA / RUH AMAL SHOLEH

RUH AMAL SHOLEH

          Seorang muslim hendaknya mencari kebaikan untuk kemaslahatan iman dan islamnya, menanamkan kebaikan dalam hati dan iman agar hati selalu terjaga untuk beramal sholeh dan hatinya dipenuhi dengan kebaikan. Mencari sebab akan perbaikan bukan hanya beramal sholeh, tapi juga perlu untuk mencari sebab datangnya ampunan Allah ta’ala untuk mengugurkan dosa yang menempel dalam iman dan hati. Maksiat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas iman. Imam Syafi’I rohimahullah pernah beliau hafalannya goncang lantaran perbuatan dosa yang menimpa iman beliau, padahal beliau adalah ulama yang faqih, keilmuannya menjadi rujukan kaum muslimin, fatwahnya menjadi mazhab. Terus bagaimana dengan kita yang jauh dari kalimat ulama dan faqih, maka jauh lebih layak kita untuk waspada dan hati-hati dengan dosa.

         Semua insan tidak bisa lepas dari dusta dan maksiat, dalam sebuah Hadist Nabi Muhammad shollahu alaihi wasallam pernah bersabda,

كلُّ بني آدمَ خطَّاءٌ، وخيرُ الخطائينَ التوابونَ

 Artinya “ setiap anak cucu Adam memiliki kesalahan, dan sebaik baik orang yang bersalah adalah orang senantiasa bertaubat.”[1]

           Habis ini mengisyaratkan bahwa semua anak cucu Nabi Adam memiliki dosa dan salah.  Sedangkan orang yang terbaik ketika mereka terjatuh dalam kesalahan adalah senantiasa bertobat dan memperbaiki diri kemudian diikuti dengan amal sholeh.

           Salah satu diantara sifat seorang muslim ketika dia terjatuh dalam dosa dan maksiat maka segera bertobat kepada Allah ta’ala,  sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allah ta’ala.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

Artinya “orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” [2]

             Ketika ayat yang mulia ini turun Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata: telah sampai kepada saya tentang ayat ini, ketika itu iblis menangis mendengar turunnya ayat ini kepada Nabi alaihiwasallam.[3]  Dan Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Al-Musnad,  dari Abu Said Al-Khudry rodhiyallohu anhu, Nabi shollahu alaihi wassalam bersabda. Iblis berkata: wahai Tuhanku demi keagunganMu sungguh senantiasa aku akan sesatkan hamba-hambaMu selama ruh mereka masih ada di jasadnya, maka Allah ta’ala berkata kepada iblis: demi keagungan dan kemuliaanKu, senantiasa aku akan ampuni mereka selama mereka minta ampun kepadaKu.[4]

            Sebuah kabar baik untuk seorang muslim yang memahami tentang Hadist yang mulia ini, karena Allah ta’ala akan memberikan ampunan kepada hamba-hambaNya yang senantiasa meminta ampun kepadaNya, walaupun iblis tidak henti-hentinya menggoda dan memberikan bisikan-bisikan syubhat, dan godaan-godaan syahwat.

         Maka seorang hamba yang memiliki ketaatan kepada Allah ta’ala akan selalu mencari keridhoan dan kecintaanNya. Dengan selalu mencari sebab datangnya ampunan dan tidak putus asa dari rahmat Allah ta’ala. Yahya bin Mu’adz rahimahullahu ta’ala beliau pernah berkata orang yang sulit diterima taubatnya adalah orang yang punya angan-angan yang panjang, dan orang yang yang memiliki taubat adalah orang yang bisa muhasabah, intropeksi sendiri  dalam semua kondisi.[5]

 

 

Penulis : Ust. Abu Umair, BA., M. Pd.

Sleman, Febuari 2019

__________________________

[1] Hadits dari Anas bin Malik rodiyallahu anhu, HR.  imam Turmudzi No. 2469, imam Ahmad No. 13049.

[2] QS. Al-Imran ayat 135 – 136

[3] tafsir Ibnu kasir

[4] imam Ahmad, dalam kitabnya al-uluu lil alil ghofar fii shohil akhbar wasaqimiha. 7494.

[5] Yusuf bin Abdulllah Al-Wabil, dalam khomsatun wa tsalatunaa sababan li ghufroni dzunub. Muqoddimah.

About abuumair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

KALIMAT TAUHID PUSAT PERADABAN

Islam adalah agama yang sangat luas. Saking luasnya, apabila ...