Tabayyun adalah meneliti berita dengan cermat, dengan pelan-pelan, dengan lembut, tidak 
tergesa-gesa menghukumi perkara dan tidak meremehkan urusan, sehingga menghasilkan 
keputusan yang jelas dan benar (Fathhul Qadir : 5/80)1
Sebagai seorang muslim kita diperintahkan untuk berhati-hati dalam menerima suatu berita atau 
informasi. Dengan kemudahan akses informasi seperti hari ini, maka proteksi terhadap kevalidan 
semakin longgar. Siapa saja, dimana saja dapat menerima dan meny

ebarkan informasi.

Bayangkan jika informasi yang tersebar tersebut buruk, maka secepat itupula keburukan tersebar. 
Dalam realitas media social kita saksikan bersama bahwa ketimbang informasi yang baik, lebih 
banyak berita yang buruk atau terdapat banyak kesia-siaan. Maka, sebaiknya jikalau seseorang 
tidak mampu memproteksi dirinya dari risiko dunia maya maka jauhkan diri dan cari kesibukan 
yang lebih bermanfaat. 
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
 «مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ»
“Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak 
bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)
Jikalau memang, media social yang ibarat dua mata pisau tidak dapat kita kendalikan, maka 
berhati-hatilah karena dapat mencelakakan diri kita sendiri dan juga kaum muslimin. Perhatikan 
apa yang kita sampaikan. Apa yang kita katakan. Apa pula yang kita informasikan kepada orang 
lain. 
Allah Taala berfirman dalam QS.Al-Ahzab : 70-71
  فَوْزًا فَازَ فَقَدْ وَرَسُولَهُ اللَّهَ يُطِعِ وَمَن ۗ ذُنُوبَكُمْ لَكُمْ وَيَغْفِرْ أَعْمَالَكُمْ لَكُمْ سَدِيدًايُصْلِحْ قَوْلًا وَقُولُوا اللَّهَ اتَّقُوا آمَنُوا الَّذِينَ أَيُّهَايَا
عَظِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah 
perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-
1 majalahsakinah.com/2014/03/menyikapi-desas-desus/
dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat 
kemenangan yang besar”
Tabayyun dalam menyampaikan berita sangat penting karena apapun yang dilakukan oleh 
manusia, semuanya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Taala. Karenanya kita 
diperintahkan untuk bertakwa kepada Allah Taala dengan meninggalkan segala perbuatan dosa, 
dan melaksanakan ketaatan semampu yang bisa dilakukan. 
Allah Taala berfirman :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, 
penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” (QS. Al-Isra : 36)
Hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah ia berkata yang baik atau 
diam” (Bukhari no. 6475 dan Muslim no. 74)
Allah Taala berfirman 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka 
periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa 
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-
Hujurat: 6).
Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin – rahimahullah – menegaskan, “Kesimpulannya, wajib 
atas seseorang untuk mengklarifikasi apa yang dikatakan oleh seseorang dan meneliti si 
pembawa berita, dia orang yang amanah atau tidak.” Kemudian beliau menambahkan, “Terlebih 
khusus jika hawa nafsu telah ikut andil, orang pun semakin suka berbicara “kata fulan” tanpa 
klarifikasi atau membuktikan terlebih dahulu, maka tabayyun saat seperti ini semakin ditekankan 
kewajibannya, hingga seseorang tidak terjerumus dalam kebinasaan”. (Syarh Riyadhus Shalihin : 
1/ 1795)

Penyusun : Radikal Yuda Utama.
Editor : Abu Umair