Home / MOTIVASI / GENERASI MILINIAL
Seminar Nasional Abu Umair

GENERASI MILINIAL

Masa muda atau usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.

Pemuda menjadi salah satu ujung tombak kokohnya Agama dan Negara, mereka memiliki nilai yang tinggi untuk merubah sebuah Peradaban Jahiliyah menuju Peradaban Islam, dari keterpurukan menjadi Era kejayaan. Sejarah telah mencatat generasi generasi istimewa ada di awali dari hadir dan datangnya para pemuda. Maka terbentuknya pemuda yang yang militan yang memiliki kualitas terbaik adalah mereka yang senantiasa mengorentasikan, memproyeksikan dirinya untuk senantiasa memahami nilai Islam dengan mengkaji dan mendalami Al-Quran dan Assunnah dengan pemahaman para sahabat Nabi Muhammad shollahu alaihi wassalam.

            Pemuda yang hidupnya dihiasi dengan ilmu Agama, maka memiliki warna tersendiri dalam masyarakat. Memiliki pengaruh yang signifikan untuk mengajak dalam kebaikan dan mencegah dan kemungkaran (al-amru bil ma’ruf wa nahi anil mungkar). Dalam sejarah telah dicatat ada pemuda-pemuda yang menjadi inspirasi dan motivasi dalam menjalankan roda kehidupan, meraka diabadikan dalam Al-Qur’an dan Assunah. Berikut tipe pemuda militan;

  1. Ashabul Kahfi (pemuda dalam Gua)

Allah ta’ala berfirman;

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. [1]

Allah ta’ala memberitahukan, mereka adalah sekumpulan pemuda yang menerima kebenaran dan lebih lurus jalannya daripada generasi tua dari kalangan mereka, yang  justru menentang dan bergelimang dengan agama yang batil.

Para pemuda tersebut hanya beriman kepada Allah ta’ala semata, tidak seperti kaum mereka. Maka, Allah ta’ala mensyukuri keimanan mereka, dan kemudian menambahkan hidayah atas diri mereka. Maksudnya, disebabkan hidayah kepada keimanan, maka Allah ta’ala menambahkan petunjuk kepada mereka, yakni berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Sebagaimana firman Allah ta’ala , yang artinya, “Dan Allah akan menambahi petunjuk kepada mereka yang telah mendapatkan petunjuk.[ Maryam : 76]. [2]

Allah ta’ala juga menjelaskan tentang bagaimana kualitas iman pemuda tersebut,

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا  لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا

Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka berkata, “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.[3]

Saat menjelaskan maksud ayat ini, al-Imam ath-Thabari rahimahullah menyatakan, “Dan Kami (Allâh) mengilhamkan kesabaran kepada mereka dan mengokohkan hati mereka dengan cahaya keimanan, hingga jiwa mereka berlepas diri dari sebelumnya, yaitu kebiasaan hidup yang menyenangkan. [4]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengkaruniakan atas mereka keteguhan dan kekuatan untuk bersabar, sehingga mereka berani menyampaikan di hadapan orang-orang kafir, ““Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. [5]

Apa yang bisa membuat mereka teguh dan istiqomah sehingga datang pertolongan Allah tanpa mereka duga-duga sebelumnya? Setelah iman, mereka memiliki sahabat atau teman seperjuangan yang shalih. Allah berkahi dakwah mereka dengan keimanan generasi berikutnya.

  1. Pemuda militan di zaman Nabi (Sahabat Mus’ab bin Umair rodiyallahu anhu)

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair rodiyallahu anhu. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah. Ia berkata,

رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ

“Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk surga.”

Ia adalah di antara pemuda yang paling tampan dan kaya di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya kebahagiaan di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

Imam Ibnul Atsir mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.” [6]

Terkenal kerana keberaniannya, Mus’ab bin Umair rodiyallahu anhu menjadi antara yang terawal terlibat dalam episod perkembangan Islam. Mus’ab mendapat dua gelaran yaituSafir al-Islam yang bermaksud ‘orang baik’ dan Mus’ab al-Qari yang bererti ‘penghafal al-Quran’, dan syahid di medan jihat pada perang uhud.

Mush’ab juga merupakan seorang pemuda yang teladan dalam bersemangat menuntut ilmu, mengamlakannya, dan mendakwahkannya. Ia memiliki kecerdasan dalam memahami nash-nash syariat, pandai dalam menyampaikannya, dan kuat argumentasinya.

  1. Pemuda yang bertemu dengan dajjal

حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَالْحَسَنُ الْحُلْوَانِيُّ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَأَلْفَاظُهُمْ مُتَقَارِبَةٌ وَالسِّيَاقُ لِعَبْدٍ قَالَ حَدَّثَنِي و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا حَدِيثًا طَوِيلًا عَنْ الدَّجَّالِ فَكَانَ فِيمَا حَدَّثَنَا قَالَ يَأْتِي وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ نِقَابَ الْمَدِينَةِ فَيَنْتَهِي إِلَى بَعْضِ السِّبَاخِ الَّتِي تَلِي الْمَدِينَةَ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ هُوَ خَيْرُ النَّاسِ أَوْ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ فَيَقُولُ لَهُ أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثَهُ فَيَقُولُ الدَّجَّالُ أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ أَحْيَيْتُهُ أَتَشُكُّونَ فِي الْأَمْرِ فَيَقُولُونَ لَا قَالَ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيهِ فَيَقُولُ حِينَ يُحْيِيهِ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ فِيكَ قَطُّ أَشَدَّ بَصِيرَةً مِنِّي الْآنَ قَالَ فَيُرِيدُ الدَّجَّالُ أَنْ يَقْتُلَهُ فَلَا يُسَلَّطُ عَلَيْهِ قَالَ أَبُو إِسْحَقَ يُقَالُ إِنَّ هَذَا الرَّجُلَ هُوَ الْخَضِرُ عَلَيْهِ السَّلَام و حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ بِمِثْلِهِ

Telah menceritakan kepadaku Amru An Naqid, Al Hasan Al Hulwani dan Abdulhamid bin Humaid, teks mereka hampir sama dan teks berikut milik Abdu, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku, sementara yang lain berkata: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’ad telah menceritakan kepada kami ayahku dari Shalih dari Ibnu Syihab telah mengkhabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bahwa Abu Sa’id Al Khudri berkata: Telah menceritakan kepada kami Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pada suatu hari cerita yang panjang tentang Dajjal, diantara yang beliau ceritakan kepada kami adalah: “Ia mendatangi jalan di gunung Madinah -padahal Madinah diharamkan baginya- hingga tiba di sebagaian tanah setelah Madinah. Saat itu seorang manusia terbaik atau diantara yang terbaik menghadangnya, ia berkata, ‘Aku bersaksi bahwa kau adalah Dajjal yang pernah diceritakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam kepada kami.’ Dajjal berkata: ‘Bagaimana menurutmu, bila aku membunuh orang ini lalu aku menghidupkannya kembali, apa kau masih meragukannya? ‘ mereka menjawab: ‘Tidak.’ Dajjal pun membunuhnya lalu menghidupkannya kembali. Saat menghidupkannya, ia berkata: ‘Demi Allah, aku tidak pernah lebih memahamimu melebihi saat ini.’ lalu Dajjal ingin membunuhnya tapi ia tidak mampu mengusainya’.” Abu Ishaq berkata: Ada yang mengatakan bahwa orang itu adalah Khadhir ‘alaihis Salam. Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengkhabarkan kepada kami Abu Al Yaman telah mengkhabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri dalam sanad ini dengan matan serupa. [7]

Maka pemuda yang diprediksikan akan muncul di akhir zaman adalah pemuda yang diatas ilmu Agama, pengetahuannya tentang dajjal membuat pemuda ini terkenal dan di catat dalam sejarah. Karena iblis dan antek-antek akan takut pada mereka orang-orang yang berilmu, karena hanyalah orang-orang yang berilmulah yang membuka kedok dan kebusukan iblis dan bala tentaranya.

Penulis : Ustdz. Abu Umair, BA., S. Pd. I., M. Pd.

____________________________

[1][Al-Kahfi : 13].

[2]Taisirul-Karîmir-Rahmân, hlm. 472.

[3][Al-Kahfi : 14]

[4]Jâmi’ul-Bayân (15/237).

[5]Al-Jâmi’ li Ahkâmil-Qur`ân (10/318)

[6](al-Jabiri, 2014: 19)

[7]HR. Muslim 5229, dan dikuatkan oleh para Aimmah.

About abuumair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

ISLAM PENGHAPUS DOSA

         Keyakinan memiliki pengaruh yang sangat ...