Home / PEMIKIRAN / GHAZWUL FIKR (Perang Pemikiran)

GHAZWUL FIKR (Perang Pemikiran)

Perkambangan zaman saat ini menuntut kita untuk semakin melek (membuka mata) dengan kondisi yang ada. Teknologi yang setiap tahun semakin berkembang memiliki pengaruh yang siknifkan tehadap pola pikir. Ghazwul Fikr atau sering kita sebut dengan perang pemikiran sudah sejak lama terjadi bahkan sebelum manusia diutus ke muka bumi ini, di mana ketika nabi Adam ­alaihissalam­­­ digelincirkan oleh iblis laknatullah alaihi, semua itu karena pemikiran-pemikiran iblis kemudian sampai kepada nabi Adam alaihissalam. Sebagaimana Allah subhanahuwata’ala telah mengabadikan dalam Al-Quranul Karim tentang kisah nabi Adam alaihissalam dengan iblis.

            فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ

            Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)” ( QS. Al-A’raaf: 20 ).

             Iblis dengan strategi dan pemikiran busuknya dapat mengemas dan menyimpangkan makna perintah Allah subhanahuwata’ala untuk mengelabui dan menyesatkan manusia dari jalan yang benar, bahkan manusia yang mulia dan sudah berada di tempat yang mulia (surga), bisa dikeluarkan oleh iblis melalui pemikiran. Begitu besarnya dampak dari pemikiran yang tidak sesuai dengan Allah dan RasulNya akan menjadi sebab tergelincirnya dalam bisikan-bisikan iblis. Dan iblis akan sangat mudah memasukkan pemikirannya kepada manusia yang tidak ada pengetahuan tentang konsep Islam yang baik, dan tidak pengetahuan tentang ilmu Agama.

Pada zaman sekarang, iblis selalu berusaha melakukan Ghazwul Fikr dengan menyimpangkan fakta dan informasi yang ada sesuai dengan maksud jahatnya. Iblis dan setan melakukannya dengan cara yang sangat halus dan licin. Sehingga manusia tidak sadar kalau dia telah tergelincir dan masuk dalam perangkap setan untuk mengikuti pola pikirnya Iblis. Begitu dahsyatnya bisikan-bisikan iblis kepada manusia yang menyebabkan mereka lalai kepada Allah subhanahuwata’ala dan hanya orang senantiasa dalam hatinya ada Al-qur’an dan As-sunnah yang baik yang bisa mengetahui tentang pemikiran pemikiran Iblis.

Target yang akan diserang oleh iblis dan bala tentaranya adalah di bidang-bidang yang sangat vital bagi umat muslim, sarana-arana umum yang secara tidak sadar telah mencuci otak kaum muslimin ketika ada orang yang berfikir bahwa agama Islam tidak penting, ketika berfikir islam tida ada lagi nilainya dalam kehidupan, dan iblis memberikan syubhatnya kepada orang-orang yang cenderung tidak mengenal tentang Islam.

Pendidikan merupakan salah tempat yang menjadi sasaran iblis untuk menuangkan racun subhat dan pemikiran sesatnya. Pendidikan merupakan tempat untuk menjadi wadah pengetahuan ilmu, baik ilmu diniyah maupun ilmu duniawi. Sehingga iblis menggunakan pendidikan sebagai salah satu wadah untuk menuangkan dalam ghazwul fikr. Tanpa kita Sadari praktik dalam dunia pendidikan terkait dengan ghazwul fikr adalah minimnya pendidikan agama Islam di sekolah atau di media belajar yang ada. Terkadang lebih mementingkan pelajaran umum, daripada ilmi diniyah, tanpa kita Sadari ini adalah bagian daripada propaganda syaitan yang mencoba untuk menghilangkan nilai Islam dalam dunia pendidikan.  Jika pokok pelajaran agama tidak dikenalkan, maka besar kemungkinan pemikiran manusia tidak terjaga sesuai dengan fitroh (kebaikan).

Banyak orang yang memiliki title atau gelar tidak ada jaminan untuk selamat dari subhat iblis, dan bujuk rayunya karena yang bisa membentengi dari pemikiran iblis adalah pengetahuan tentang bagaimana Agama (dinul islam). Di sinilah pentinganya pengetahuan ilmu Agama untuk mengcounter pemikiran iblis dan subhatnya.

Semoga kita diberikan ilmu yang barokah yang senantiasa bisa membedakan mana haq dan mana yang bathil. Dan semoga Allah ta’ala menjadikan ilmu kita sebagai hujjahtun lanaa (pembela kita). Aamiin.

 

Oleh : Abu Umair, BA., M. Pd.

About abuumair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*