Home / Artikel Populer / WAKTU YANG BERHARGA

WAKTU YANG BERHARGA

Diantara sekian banyak nikmat yang Allah berikan, terdapat satu nikmat yang agung yang mana di zaman sekarang ini banyak yang terluput untuk mensyukuri nikmat tersebut, yakni nikmat waktu luang. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh imam al bukhari dan selainnya dari jalur shahabat ibnu abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,  rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نِعمتان مغبونٌ فيهما كثيرٌ من الناس : الصحة و الفرغ

“Dua nikmat yang manusia banyak tertipu dengannya yaitu nikmat sehat dan waktu luang”[1]

Di dalam kitab fathul bari dikutip perkataan Imam ibnul jauzi rahimahullah mengenai hadits tersebut: seseorang bisa saja sehat tapi ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan pekerjaannya. Atau ia memiliki waktu luang tapi tidak sehat. Jika keduanya berkumpul lalu ia bermalas-malasan untuk melakukan ketaatan maka dialah orang yang tertipu. Dunia adalah ladang akhirat, di dalamnya terdapat perniagaan yang jelas keuntungannya di akhirat, siapa yang menggunakan waktu luang dan sehatnya untuk taat kepada Allah, maka ia adalah orang yang sukses. Tetapi, siapa yang menggunakannya dalam maksiat kepada Allah maka ia adalah orang yang tertipu. Karena setelah waktu luang akan datang kesibukan dan setelah sehat akan datang masa sakit”.[2]

Allah ta’ala di dalam Al qur’an banyak bersumpah dengan waktu diantaranya di dalam surah Al ‘Ashr ayat 1: ﴿وَالعَصْرِ١ . . .﴾, di surah al Fajr ayat 1 dan 2: ﴿وَالفَجْرِ١ وَ لَيَالٍ عَشْرٍ٢. . .﴾, surah Ad-Dhuha ayat 1: ﴿وَالضُّحَى١

Disini Allah bersumpah dengan bermacam waktu. Para ulama mengatakan bahwa, “sumpah Allah dengan sesuatu yang agung ini menunjukkan akan kesempurnaan kuasa, keagungan dan ilmuNya. Maka sesuatu yang Dia bersumpah dengannya merupakan bukti akan kebenaran yang bersumpah dari keagungan apa yang Dia ciptakan.”[3]

Maka begitu agungnya perkara waktu ini, dan sungguh merugi bagi siapa yang lalai dan tidak mendapat kebaikan dan keberkahan dari waktu yang dimilikinya.

Sebab melalaikan waktu

Ada 3 sebab utama dimana seorang terbuai terhadap waktu luangnya yang berharga (3L):

  1. Lemahnya iman

Sebab utama timbulnya iman yang lemah pada diri seseorang ialah karena kecenderungannya memperturuti hawa nafsu dan panjang angan-angan.

Imam ibnul qoyyim rahimahullah pernah berkata:

وأعظم هذه الإضاعات إضاعتان هما أصل كل إضاعةٍ : إضاعة القلب و إضاعة الوقت. فإضاعة القلب من إيثار الدنيا على الاخرة. و إضاعة الوقت من طول الأمل

“ada dua penyianyiaan, yang keduanya merupakan pokok seluruh penyia-nyiaan yaitu menyia-nyiakan hati dan waktu. Penyebab menyia-nyiakan hati yaitu lebih mencintai dunia daripada akhirat, dan penyebab menyia-nyiakan waktu yaitu panjang angan-angan”[4]

Al hasan al bashri rahimahullah pernah berkata:

ما أطال عبدٌ الأمل إلَّا أساء العمل

“Tidaklah seseorang panjang angan-angannya, melainkan akan rusak amal-amalnya”[5]

  1. Lalai akan pentingnya waktu

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِيْنَ ۝ قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْئَلِ الْعَآدِّيْنَ ۝

Dia (Allah) berfirman, ‘Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.’” (QS. Al Mu’minuun: 112-113).

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah pernah berkata, “Sepatutnya bagi manusia mengetahui kemuliaan dan kadar waktunya. Dan janganlah ia sia-siakan waktunya walau hanya satu menit tanpa ada ketaatan kepada Allah”.[6]

Maka hendaknya kita memperhatikan setiap detik kita agar tidak lalai dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hidup ini tak lebih dari sekumpulan detik, menit, dan hari-hari, dimana berlalu waktu kita maka berlalu pula sebagian dari diri kita. Sebagaimana perkataan al imam Hasan Al Bashri rahimahullah:

يابنَ ادمَ, إنما أنتَ أيَّامٌ , فإذا ذهب يومٌ ذهب بعضُكَ

“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah sekumpulan hari demi hari. Tatkala berlalu satu hari, maka berkuranglah bagian dari dirimu.”[7]

Renungkanlah perkataan shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu

ما ندمتُ على شيءٍ ندمي على يومٍ غربتْ شمسه ، نقص فيه أجليي ، ولم يزد فيه عملي

“Tidaklah aku menyesal atas sesuatu seperti penyesalanku pada suatu hari dimana mataharinya itu terbenam, umurku berkurang, tapi amalku tidak bertambah”[8]

  1. Layunya semangat dan keinginan

Perkara ini merupakan perkara yang penting, dimana semangat seseorang silih berganti terkadang di atas terkadang di bawah. Maka ingatlah sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

المؤمنون القوي خيرٌ وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف, وفي كلٍ خيرٌ, احرص على ماينفعك واستعن بالله ولاتعجَز

“Mukmin yang kuar lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah . . .”[9]

 

______________________________________

Penyusun  : Akhi Rijal (Santri Ma’had Ilmi. 2018)
Muroja’ah : Ust. Abu Umair, BA., M. Pd.

______________________________________

[1] Shahih: HR Al Bukhari (no.6412)

[2] Fat-hul Baari bi syarhi shahiih al bukhaari (XI/230)

[3] Al qoulul mufid (II/130)

[4] Fawaaidul fawaaid (hlm. 385)

[5] Hilyatul Auliyaa’ (VIII/102, no.11507)

[6] Shaydul Khaatir (hlm. 22)

[7] Fashlul khitaab fiz zuhdi wa arraqaaiq wal adab (hlm.609).

[8] Qiimatuz zaman ‘indal ‘ulamaa (hlm.27)

[9] Shahih: HR.Muslim (no.2664), Ahmad (II/366,370), Ibnu Majah (no.79,4168), An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no.626,627), Ath Thahawi dalam Kitab As-Sunnah (no.356), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albaani dalam Hidaayatur Ruwaat ila Takhriiji Ahaadiitsil Mashaabiih wal Misykaat (no.5228)

About abuumair

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

WAJAH PENDIDIKAN DI MADRASAH

Sebuah pendidikan menjadi tolak ukur kesuksesan dan kemajuan bangsa, ...