Monthly Archives: January 2026

7 Alasan Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Arab ?

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan tentang hukum mempelajari bahasa Arab,

وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ، ومعرفتها فرض واجب، فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية، وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب .

“Dan juga perlu dipahami bahwa bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mempelajarinya adalah fardhu wajib. Karena untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib. Memahaminya tidaklah bisa kecuali dengan memahami bahasa Arab. Sedangkan kaedah menyatakan, ‘Sesuatu yang wajib yang tidak bisa terpenuhi kecuali dengannya, maka itu dihukumi wajib.’ Kemudian untuk mempelajarinya tadi, ada yang hukumnya fardhu ‘ain dan ada yang hukumnya fardhu kifayah.” (Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527)

Ada beberapa riwayat yang juga dibawakan oleh Ibnu Taimiyah.

Diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Abi Syaibah, ‘Umar pernah menulis pada Abu Musa,

“Pelajarilah As-Sunnah dan pelajarilah bahasa Arab, serta i’rablah Al-Qur’an. Ingatlah Al-Qur’an itu dengan bahasa Arab.”

‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata,

تعلموا العربية فإنها من دينكم، وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم

“Pelajarilah bahasa Arab karena ia bagian dari agama kalian. Pelajarilah hukum waris, ia juga bagian dari agama kalian.”

Mempelajari bahasa Arab -kata Ibnu Taimiyah- bertujuan agar faqih dalam ucapan. Sedangkan menurut beliau, mempelajari sunnah Nabi bertujuan supaya faqih dalam amalan. Sedangkan dalam diin itu terdiri dari ucapan dan amalan. Lihat bahasan Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 527-528.

Ada beberapa alasan kenapa kita lebih baik menguasai bahasa Arab? Kami ringkaskan dari apa yang kami pahami dari perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullah:

  1. Bahasa arab adalah syiar Islam dan syiar umat Islam. Dan kita tahu bahwa bahasa merupakan sebaik-baiknya syiar.
  2. Sebagian fuqaha melarang berdoa dalam shalat dan juga berdzikir dengan bahasa non-Arab.
  3. Membiasakan diri dengan bahasa Arab akan berpengaruh amat kuat pada cara berpikir (logika), akhlak, dan agama.
  4. Membiasakan diri dengan bahasa Arab akan membuat kita serupa dengan sahabat, dan tabi’in. Sehingga kita bisa meniru cara berpikir, cara beragama dan akhlak mulia mereka.
  5. Mempelajari bahasa Arab adalah bagian dari agama.
  6. Untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan baik wajib dengan mempelajari bahasa Arab. Walaupun ada yang sifatnya fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.
  7. Belajar bahasa Arab akan membuat seseorang semakin baik (semakin faqih) dalam ucapan. (Disarikan dari Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim, 1: 519-528)

Semoga bermanfaat.

Mukjizat Berbakti Kepada Orang Tua

Mukjizat Merawat Orang Tua

Uang bisa di cari, Ilmu bisa di gali, namum kesempatan untuk mengasihi orang tua takkan terulang lagi

Ketika seorang anak menemukan jodohnya, dan mendapatkan wanita cantik yang berhasil merebut seluruh hatinya, tidak jarang orang yang pertama menjadi musuh si Anak adalah orang tuanya sendiri.

Orang tua yang semula begitu mulia, mendadak terasa menjadi sangat cerewet, dan menjadi sumber masalah rumah tangga. Apalagi bila si anak (laki²) tidak berhasil menyatukan hati istrinya dengan ibundanya.

Padahal anak-anak yang merawat orang tuanya sampai wafat, kebanyakan di cintai Alloh, hal itu tercermin dalam karir hidupnya di Dunia, dan mereka cenderung menjadi orang yang sukses.

Mukjizat Orang Tua, dapat kita temukan dalam sejarah hidup seorang sahabat di bawah ini :
Ketika ibu dari Iyas bin Muawiyah wafat, lyas meneteskan air mata tanpa meratap, lalu beliau ditanya seorang sahabat tentang sebab tangisannya,_

Jawabnya, “Alloh telah membukakan untukku, beberapa pintu untuk masuk syurga, sekarang, satu pintu telah ditutup.”

Begitulah, orangtua adalah pintu syurga, bahkan pintu yang paling tengah di antara pintu-Pintu yang lain.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
ORANG TUA adalah PINTU SYURGA YANG PALING TENGAHterserah kamu, hendak kamu terlantarkan dia, atau kamu hendak menjaganya.”
(HR Tirmidzi)

Al-Qadhi berkata, “Maksud pintu syurga yang paling tengah, adalah pintu yang PALING BAGUS dan PALING TINGGI.

Dengan kata lain, Sebaik-baik sarana bisa mengantarkan seseorang ke dalam syurga dan meraih derajat yang tinggi adalah dengan mentaati orangtua dan menjaganya.”

Bersyukurlah jika kita masih memiliki orangtua, karena di depan kita masih ada pintu syurga yang masih terbuka lebar.

Terlebih bila orangtua telah berusia lanjut. Dalam kondisi tak berdaya, atau mungkin sudah pelupa, pikun dan terkesan cerewet, atau tak mampu lagi merawat dan menjaga dirinya sendiri, persis seperti bayi yang baru lahir._l

SUNGGUH TERLALU, ORANG YANG MENDAPATKAN ORANG TUANYA BERUSIA LANJUT, TAPI DIA TIDAK MASUK SYURGA, PADAHAL KESEMPATAN BEGITU MUDAH BAGINYA.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam.. bersabda: “Sungguh celaka….., sungguh celaka,… sungguh celaka

Lalu Seseorang bertanya “Siapakah itu wahai Rosululloh?”

Beliau bersabda, “Yakni orang yang mendapatkan, salah satu orang tuanya, atau kedua orang tuanya berusia lanjut, namun ia tidak juga bisa masuk syurga.”
(HR Muslim)

Dia tidak masuk syurga karena tak berbakti, tidak mentaati perintahnya, tidak berusaha membuat senang hatinya, tidak meringankan kesusahannya, tidak menjaga kata-katanya, dan tidak merawatnya saat mereka tak lagi mampu hidup mandiri.

SAATNYA KlNI, KlTA BERKACA DIRI, SUDAHKAH LAYAK KITA DISEBUT SEBAGAI ANAK YANG BERBHAKTI ? SUDAHKAH LAYAK KITA MEMASUKI PINTU SYURGA YANG PALING TENGAH ?

Bagaimana Cara Taubat Dari Membeli Rumah Lewat Kredit Bank & Agar Rumah Berkah?

Assalamu’alaikum
Jika dahulu saya membeli tanah dan membangun rumah lewat Bank konvensional, dan sekarang sudah menyesal serta mengerti hukumnya. Lalu bagaimana membersihkan dosa dan cara agar rumah tersebut bisa berkah?
Terimakasih
Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
Sebuah berita gembira tersirat dari lisan Rasulullah shallallahu alahi wa sallam, yang mana beliau bersabda:

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
Artinya:”Orang bertaubat dari dosa, bagaikan orang tidak memiliki dosa”. HR Ibnu Majah, Thabrani, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.

Hadits ini dinyatakan hasan oleh beberapa pakar hadits karena banyaknya jalur periwayatannya, diantaranya Ibnu Hajar Al-‘Asqolani dalam fathul Baari (13/471) dan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Targhib wat Tarhib (3/219.

Hadits diatas umum, mencakup semua dosa dan maksiat. Adapun teknis taubat yang berkualitas, maka hendaknya kita menyimak petuah dari Al-Imam An-Nawawi di dalam kitabnya yang fenomenal “Riyadhus Shalihin”, beliau mengatakan:

قَالَ العلماءُ : التَّوْبَةُ وَاجبَةٌ مِنْ كُلِّ ذَنْب ، فإنْ كَانتِ المَعْصِيَةُ بَيْنَ العَبْدِ وبَيْنَ اللهِ تَعَالَى لاَ تَتَعلَّقُ بحقّ آدَمِيٍّ فَلَهَا ثَلاثَةُ شُرُوط : أحَدُها : أنْ يُقلِعَ عَنِ المَعصِيَةِ . والثَّانِي : أَنْ يَنْدَمَ عَلَى فِعْلِهَا .والثَّالثُ : أنْ يَعْزِمَ أَنْ لا يعُودَ إِلَيْهَا أَبَداً . فَإِنْ فُقِدَ أَحَدُ الثَّلاثَةِ لَمْ تَصِحَّ تَوبَتُهُ.

Artinya: Ulama mengatakan: Bertaubat dari seluruh dosa hukumnya wajib. Jika maksiat tersebut terjadi antara hamba dan Allah dan tidak berkaitan dengan hak-hak manusia, maka ada tiga syarat (kesempurnaan taubat): pertama: meninggalkan maksiat yang dilakukan. Kedua: menyesali perbuatan maksiat tersebut. Ketiga: bertekad untuk tidak mengulangi lagi selamanya. Jika salah satu dari syarat ini tidak terealisasi, maka taubatnya tidak benar.

Jika tiga hal ini bisa Anda realisasikan dalam taubat Anda, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah lakukan.

Adapun menghadirkan keberkahan dalam rumah kita, maka salah satu sarana yang harus kita lakukan adalah dengan cara memakmurkan rumah dengan ibadah kepada Allah, seperti: melaksanakan shalat sunnah di rumah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, dan membina keluarga untuk taat kepada Allah dengan mengadakan kajian-kajian didalamnya.

Agar Tidak Memandang Remeh Nikmat Allah

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan memiliki sifat yang mulia ini yaitu selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah dunia, seseorang akan merealisasikan syukur dengan sebenarnya.

Al Munawi –rahimahullah- mengatakan,

“Jika seseorang melihat orang di atasnya (dalam masalah harta dan dunia), dia akan menganggap kecil nikmat Allah yang ada pada dirinya dan dia selalu ingin mendapatkan yang lebih. Cara mengobati penyakit semacam ini, hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya (dalam masalah harta dan dunia). Dengan melakukan semcam ini, seseorang akan ridho dan bersyukur, juga rasa tamaknya (terhadap harta dan dunia) akan berkurang. Jika seseorang sering memandang orang yang berada di atasnya, dia akan mengingkari dan tidak puas terhadap nikmat Allah yang diberikan padanya. Namun, jika dia mengalihkan pandangannya kepada orang di bawahnya, hal ini akan membuatnya ridho dan bersyukur atas nikmat Allah padanya.”

Al Ghozali –rahimahullah- mengatakan,

“Setan selamanya akan memalingkan pandangan manusia pada orang yang berada di atasnya dalam masalah dunia. Setan akan membisik-bisikkan padanya: ‘Kenapa engkau menjadi kurang semangat dalam mencari dan memiliki harta supaya engkau dapat bergaya hidup mewah[?]’ Namun dalam masalah agama dan akhirat, setan akan memalingkan wajahnya kepada orang yang berada di bawahnya (yang jauh dari agama). Setan akan membisik-bisikkan, ‘Kenapa dirimu merasa rendah dan hina di hadapan Allah[?]” Si fulan itu masih lebih berilmu darimu’.” (Lihat Faidul Qodir Syarh Al Jaami’ Ash Shogir, 1/573)

Itulah yang akan membuat seseorang tidak memandang remeh nikmat Allah karena dia selalu memandang orang di bawahnya dalam masalah harta dan dunia. Ketika dia melihat juragan minyak yang memiliki rumah mewah dalam hatinya mungkin terbetik, “Rumahku masih kalah dari rumah juragan minyak itu.” Namun ketika dia memandang pada orang lain di bawahnya, dia berkata, “Ternyata rumah tetangga dibanding dengan rumahku, masih lebih bagus rumahku.” Dengan dia memandang orang di bawahnya, dia tidak akan menganggap remeh nikmat yang Allah berikan. Bahkan dia akan mensyukuri nikmat tersebut karena dia melihat masih banyak orang yang tertinggal jauh darinya.

Apakah Sampai Pahalanya Bersedekah Atas Nama Orang Yang Meninggal?

Bagaimana hukum cucu yang bersedekah atas nama nenek-nya atau orang tua yang telah meninggal? Apakah sampai pahalanya tersebut?

Jawaban
Bersedekah dan meniatkan pahalanya untuk orang yang telah meninggal dunia adalah perkara yang dibolehkan dan dibenarkan, dan pahala yang telah diniatkan akan sampai, apakah itu kepada orang tua yang telah meninggal, atau kerabat lainnya, atau kepada muslim yang tak ada hubungan kekeluargaan sekalipun. Diantara dalil yang disebutkan oleh para ulama kita, tentang sampainya pahala sedekah yang diniatkan untuk orang yang telah meninggal adalah apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhuma- bahwa ibunya Sa’d bin Ubadah meninggal dunia, ketika Sa’d tidak ada di rumahnya, maka Sa’d berkata :
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا، أَيَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ»

“ Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dan ketika itu aku tidak hadir. Apakah dia mendapat pahala jika aku bersedekah atas nama beliau ? ” Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab : 《Ya》.”
(HR. Bukhari 2756)

Bahkan para ulama kita menyebutkan hal ini sebagai kesepakatan ulama, bahwa pahala sedekah bisa diniatkan untuk mereka yang telah meninggal dunia, misalnya imam an-Nawawi -rahimahullah- beliau katakan :

وفي هذا الحديث : أن الصدقة عن الميت تنفع الميت ويصله ثوابها , وهو كذلك بإجماع العلماء…

” dan diantara faidah dari hadits ini adalah : bahwa sedekah atas nama seorang yang telah meninggal ( mayit ) akan memberikan manfaat untuknya dan pahalapun sampai kepadanya, dan itu merupakan kesepakatan ulama…”

Begitu pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- :

” الصدقة عن الموتى ونحوها تصل إليهم باتفاق المسلمين ” انتهى من “جامع المسائل” (4/270) .

” Sedekah atas nama orang yang telah meninggal atau semisalnya akan sampai kepadanya (pahala) berdasarkan kesepakatan ulama kaum muslimin ” ( Jaami’ al Masaail 4/270 )

Wallahu a’laa wa a’lam

9 Diantara Kemungkaran Wanita Dalam Aqidah

Allah   telah menggariskan undang-undang dan syariat-Nya demi kebahagiaan hamba di dunia dan akhirat. Apabila mereka menjalankan syariat Allah  itu niscaya mereka akan memperoleh kesucian dan ketentraman dari segala dosa dan kekejian.Allah  berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُوْلَى وَأَقِمْنَ الصَّلاَةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah  bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya(Al-Ahzab:33)

  1. Mendatangi para peramal, dukun atau orang (yang dianggap) pintar, baik karena sakit, pelet, atau untuk melepaskan sihir, padahal Nabi telah memperingatkan dalam sabdanya:
    “Barangsiapa mendatangi tukang dukun lalu membenarkan apa yang ia katakan maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad “(HR.Muslim)
  2. Sering ziarah kubur dan bepergian ke kuburan, khususnya kubur Nabi padahal Nabi telah bersabda yang artinya:
    “Allah melaknat para wanita yang sering ziarah kubur”(HR.Ahmad). derajatnya shahih riwayat Imam Ahmad
  3. Memberikan ucapan selamat kepada wanita kafir seperti disaat ulang tahun, tahun baru dan sejenisnya. Padahal ini semua hukumnya haram sebab termasuk dalam loyal kepada mereka. (Al-Hafizh Ibnul Qayyim berkata dalam Ahkam Ali Dhimmah 1/205:”Mengucapkan selamat kepada orang kafir adalah haram dengan kesepakatan para ulama seperti mengatakan “Selamat Hari Raya” dan lainnya kalaulah bukan kufur minimal adalah haram.Karena hal ini seperti memberi ucapan selamat kepada mereka atas sujud mereka terhadap salib”
  4. Bodoh dengan hukum-hukum agama islam khususnya tentang hukum kewanitaan padahal Nabi   bersabda:”menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim” (HR.Ibnu Majah, disahihkan oleh Al-Bani)
  5. Meratapi mayat dengan memukul wajah dan merobek pakaian, padahal Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda: “Tidaklah termasuk golongan kami orang yang menampar pipi dan merobek pakaian serta menyeru dengan seruan jahiliyah” (muttafaq alaih) .Dalam hadits lain :”Perempuan yang meratapi apabila belum bertaubat sebelum wafatnya, akan dibangkitkan di hari kiamat sedang pada dirinya pakaian dari tembaga dan baju besi yang berkarat” (HR.Muslim)
  6. Bepergian ke negeri kafir tanpa keperluan secara syar’i baik dengan alasan belajar, rekereasi atau berbulan madu, padahal ulama telah menjelaskan bahwa tidak boleh bepergian kenegri kafir melainkan dengan alasan yang syar’i, sedangkan rekereasi bukanlah alasan yang syar’i, Nabi     bersabda: “Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal ditengah lingkungan orang yang kafir”(HR.Abu Daud, Tirmidzi,dan dihasankan Al-Albani)
  7. Menuntut kepada suami untuk dicarikan pembantu atau guru pribadi yang non islam, padahal ini sangat berbahaya sekali bagi aqidah dan akhlak anak-anak.
  8. Mencela kaum muslimin dan kaum mulimat khususnya wanita-wanita muslimah yang konsekuwen terhadap agama, mereka lupa perbuatan mereka ini merupakan salah satu pembatal keislaman seseorang.Allah   berfirman:”Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayat serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?tidak usah minta maaf, kamu sudah kafir sesudah beriman” (At-Taubah:65-66)
  9. Putus harapan ketika ditimpa musibah atau berdo’a untuk mati, padahal Nabi   bersabda: “Janganlah seorang diantara kalian mengharap mati karena musibah yang menimpa, apabila ia memang harus mengharap mati, hendaklah ia mengatakan “Ya, Allah hidupkanlah hamba jika hidup itu lebih baik bagiku, wafatkanlah hamba jika wafat itu lebih baik bagiku”(Muttafaqalaih)

Apakah Tidak Bisa Membaca Al-Quran itu Berdosa?

Tanya tadz, sekarang ini banyak orang mengaku Islam tapi tidak bisa membaca Al-Quran, apakah tidak bisa membaca al-Quran itu berdosa? Makasih

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu bentuk pelanggaran dalam berinteraksi dengan al-Qur’an adalah memboikot al-Qur’an. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadu kepada Allah tentang sikap sebagian umatnya yang memboikot al-Quran. Allah ceritakan pengaduhan beliau dalam al-Qur’an,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا

Rasul berkata: “Ya Rab-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran itu sesuatu yang diacuhkan.” (QS. al-Furqan: 30).

Bentuk memboikot al-Quran beraneka ragam. Ada yang sangat parah dan ada yang tingkatannya ringan.

Ibnul Jauzi dalam tafsirnya menyebutkan, ada 2 bentuk boikot al-Quran,

Pertama, boikot dalam bentuk tidak memperhatikan sama sekali, tidak mengimaninya dan mengingkarinya. Ini pemboikotan terhadap al-Quran yang dilakukan oleh orang kafir. Demikian keterangan Ibnu Abbas dan Muqatil bin Hayan.

Kedua, boikot dalam bentuk tidak memperhatikan maknanya sama sekali. Dia mengimaninya, membacanya, namun hanya di lisan, dan tidak mempedulikan kandungannya.

(Zadul Masir, 4/473).

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan beberapa bentuk pemboikotan terhadap al-Quran,

هذا من هجرانه، وترك علمه وحفظه أيضا من هجرانه، وترك الإيمان به وتصديقه من هجرانه، وترك تدبره وتفهمه من هجرانه، وترك العمل به وامتثال أوامره واجتناب زواجره من هجرانه، والعدولُ عنه إلى غيره -من شعر أو قول أو غناء أو لهو أو كلام أو طريقة مأخوذة من غيره -من هجرانه

Ini termasuk bentuk memboikot qur’an. Tidak mempelajarinya, tidak menghafalkannya, termasuk memboikot al-Quran. Tidak mengimaninya, membenarkan isinya, juga termasuk memboikot al-Quran. Tidak merenungi maknanya, memahami kandungannya, termasuk memboikot al-Quran. Tidak mengamalkannya, mengikuti perintah dan menjauhi laranganya, termasuk memboikot al-Quran. Meninggalkan al-Quran dan lebih memilih syair, nasyid, nyanyian, atau ucapan sia-sia lainnya, termasuk memboikot al-Quran. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/108).

Dalam Fatwa Lajnah Daimah juga dinyatakan,

والإنسان قد يهجر القرآن فلا يؤمن به ولا يسمعه ولا يصغي إليه، وقد يؤمن به ولكن لا يتعلمه، وقد يتعلمه ولكن لا يتلوه، وقد يتلوه ولكن لا يتدبره، وقد يحصل التدبر ولكن لا يعمل به، فلا يحل حلاله ولا يحرم حرامه ولا يحكمه ولا يتحاكم إليه ولا يستشفي به مما فيه من أمراض في قلبه وبدنه، فيحصل الهجر للقرآن من الشخص بقدر ما يحصل منه من الإعراض

Manusia terkadang memboikot al-Qur’an, tidak mengimaninya, tidak mendengarkannya, tidak menyimaknya. Terkadang dia mengimaninya, namun tidak mempelajarinya. Terkadang dia sudah belajar, namun tidak membacanya. Terkadang dia membaca, namun tidak merenunginya. Terkadang dia sudah merenunginya, namun tidak mengamalkannya, tidak menghalalkan apa yang dihalalkan oleh al-Quran, tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh al-Quran, tidak mengikuti hukum yang ada dalam al-Quran. Tidak mengobati penyakit dalam hatinya dengan al-Quran. Sehingga bentuk pemboikotan al-Quran berbeda-beda sesuai tingkatan seseorang berpaling dari al-Quran. (Fatwa Lajnah Daimah, 4/104)

Dari semua tingkatan pemboikotan itu, ada yang sangat parah, ada yang sampai tingkat kekufuran, ada yang berada di posisi dosa besar, dan sampai ada yang dibenci secara syariat.

Memahami ini, berarti tidak bisa membaca al-Quran, ada dua bentuk,

Pertama, tidak baca al-Quran karena keterbatasan yang dimilikinya.

Dia sudah berusaha untuk belajar, tapi tetap tidak mampu membacanya. Dalam kondisi semacam ini, dia tidak terhitung berdosa.

Kedua, tidak baca al-Quran karena memang cuek dan tidak perhatian dengan al-Quran.

Dia punya kemampuan, bahkan orang akademik, tapi karena dia tidak perhatian dengan al-Quran, hingga dia tidak bisa membaca al-Quran. Dia malu jika harus belajar dari dasar.

Ada yang pinter latihan vokal, suaranya bisa fasih. Tapi sayang, hanya dipake untuk menyanyi… menyanyi… tapi giliran al-Quran, dia blepotan. Sungguh memalukan.

Tindakan semacam ini layak disebut memboikot al-Quran.

Mari membaca Al Qur’an.

Dilarang, Mendiamkan Saudaranya Lebih Dari 3 Hari

عَنْ أبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ–رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: أَنْ رَسُولَ اللهِ –صلى الله عليه وسلم– قَالَ: “لَا يحلُّ لمسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَياَلٍ يَلْتْقَيِاَنِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بالسَّلَامِ“.

“Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam, mereka bertemu yang satu berpaling ke sana dan yang satu berpaling ke sini. Dan yang terbaik diantara mereka adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam”. (Muttafaq ‘alaih).

Pelajaran dari Hadits Ini:

Haramnya memutuskan hubungan dengan sesama Muslim melebihi tiga hari. Boleh saling hajr (boikot/mendiamkan) hanya tiga hari. Dan saling hajr dianggap selesai dengan mengucapkan dan atau menjawab salam, kecuali jika saling mendiamkan membuat salah satu pihak merasa tersakiti maka tidak cukup dengan sekadar saling mengucapkan salam.

Boleh mendiamkan seseorang bila berbicara dengannya mendatangakn cela bagi agama dan mudharat bagi urusan dunia.

Keutamaan orang yang memulai salam dan mengakhiri saling boikot dan memutuskan hubungan.

(Diterjemahkan oleh Syamsuddin Al-Munawiy dari Kitab Tuhfatul Kiram Syarh Bulughil Maram, Kitabul Jami’ Bab Al-Birr was-Shilah, halaman: 595-596, karya Syekh. DR. Muhammad Luqman As-Salafi hafidzahullah, terbitan Darud Da’i Lin Nasyri Wat Tauzi’ Riyadh Bekerjasama dengan Pusat Studi Islam Al-Allamah Ibn Baz India).

Kenapa Harus Memilih Sekolah Sunnah ?

Perkembangan zaman akan menjadikan kita menepi pada jalan nyaman dan tenang, begitulah gambaran pendidikan saat ini banyak orang yang sudah mulai kehilangan arah untuk mendapatkan pendidikan yang layak buat anaknya. Permasalah bukan hanya pada masalah orangtua yang minim akan pengetahuan dan kebutuahan anak untuk masa depan sehingga berdmpak pada pendidikan.

 

Berikut adalah 5 alasan mengapa memilih sekolah sunnah, beserta dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah:

1. Mengajarkan Tauhid dan Aqidah yang Benar

Sekolah sunnah fokus pada pendidikan tauhid dan aqidah yang sesuai dengan pemahaman salafus shalih, sehingga anak-anak diajarkan untuk mengenal Allah dengan benar dan beribadah hanya kepada-Nya tanpa ada penyimpangan.

Dalil:

  • Al-Qur’an: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS.Adz-Dzariyat : 56)
  • Hadits: “Barang mati siapa sedangkan dia mengetahui bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, maka dia masuk surga.” (HR.Muslim)

2. Mengikuti Manhaj Salaf

Sekolah sunnah berusaha menerapkan prinsip-prinsip Islam berdasarkan manhaj salaf (pendekatan generasi sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in), yaitu memahami agama sesuai dengan pemahaman generasi terbaik umat Islam.

Dalil:

  • Al-Qur’an: “Dan orang-orang yang terdahulu – yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah .” (QS. At-Taubah : 100)
  • Hadits: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Mengutamakan Akhlak dan Adab

Sekolah sunnah tidak hanya fokus pada ilmu pengetahuan, tetapi juga pada adab dan akhlak sesuai dengan tutunan Rasulullah ﷺ, mengajarkan nilai-nilai Islam dalam berinteraksi dan berperilaku sehari-hari.

Dalil:

  • Al-Qur’an : “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS.Al-Qalam : 4)
  • Hadits: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR.Ahmad)

4. Penerapan Pendidikan Berbasis Al-Qur’an dan As-Sunnah

Kurikulum di sekolah sunnah berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam. Hal ini memastikan bahwa pendidikan yang diberikan sesuai dengan syariat Islam.

Dalil:

  • Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa : 59)
  • Hadits: “Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR.Malik)

5. Melahirkan Generasi yang Sholeh dan Berilmu

Dengan penekanan pada ilmu syar’i, sekolah sunnah berusaha membentuk generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki ketakwaan kepada Allah serta siap menjadi pemimpin di masa depan.

Dalil:

  • Al-Qur’an: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah : 11)
  • Hadits: “Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkannya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)

Referensi:

  1. Al Quran Al Karim
  2. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
  3. Al-Muwaththa, karya Imam Malik
  4. Musnad Ahmad
  5. Kitab-kitab tafsir dan syarah hadits