Monthly Archives: January 2026

10 NASEHAT BUAT PEMIMPIN

Islam tidak alergi dengan kepemimpinan(politic) yang diistilahkan di zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dengan Khalifah seorang yang diberikan amanah untuk mengurusi kondisi umat. Saat pemimpin yang telah dipilih oleh kaum muslimin maka kewajiban seseorang untuk senantiasa mentaati dan mengikuti semua undang undang yang telah dibuat selama tidak bertentangan dan melawan hukum Allah dan RasulNya.

Dan berikut kami paparkan 10 nasehat dan perkataan para ulama tentang ancaman bagi pemimpin yang berbuat kedzoliman;

1. قال عمر بن عبد العزيز: “أصل الرخاء العدل وأصل الشدة الجور” – (كتاب المنتخب عن مختار الحكم والأثر، صفحة 137)
Umar bin Abdul Aziz berkata: “Asal dari kemakmuran adalah keadilan dan asal dari kesengsaraan adalah kezaliman.”

2. قال الحسن البصري: “لا تظلموا الناس فتدعوا دعوتهم عليكم وإنها لا تردّ” – (كتاب الصدقات لابن أبي شيبة، صفحة 441)
Hasan Al-Basri berkata: “Janganlah kalian menzalimi manusia, sehingga doa mereka menjadi senjata bagi kalian, dan sungguh tidak akan ditolak.”

3. قال عمر بن عبد العزيز: “لو أن كلبا أهلك بني أدم مثلما يأكل الظالم لأهلكه الناس أجمعون” – (كتاب الرياض النضرة في أخبار القرن الثاني عشر، صفحة 101)
Terjemahan: Umar bin Abdul Aziz berkata: “Jika anjing membinasakan anak-anak Adam sebagaimana yang dilakukan oleh orang zalim, niscaya manusia akan membinasakan anjing itu.”

4. قال عبد الله بن عمرو بن العاص: “من أراد الله به خيرا جعله في طاعة السلطان ومن أراد الله به شرا جعله في معارضته” – (كتاب الزهد لابن أبي داود، صفحة 111)
Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata: “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, Dia akan menjadikannya taat kepada penguasa, dan barangsiapa yang Allah menghendaki keburukan baginya, Dia akan menjadikannya berlawanan dengan penguasa.”

5. قال الحسن البصري: “ما رأيت شيئا أنقض للخلق من جور” – (كتاب التوحيد لابن محمد بن عبد الوهاب، صفحة 122)
Terjemahan: Hasan Al-Basri berkata: “Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih merusak bagi masyarakat daripada kezaliman.”

6. قال الفضيل بن عياض: “لا تصلح حال أمة بينا وبين السلطان إلا بالزهد عن الدنيا ومعرفة الله” – (كتاب الزهد لابن أبي داود، صفحة 111)
Fudhail bin ‘Iyad berkata: “Tidak akan diperbaiki keadaan umat kita dengan penguasa kecuali dengan zuhud terhadap dunia dan mengenal Allah.”

7. قال عمر بن عبد العزيز: “اللهم إني لا أحب الدنيا لكني أحب أن أجري فيها حقا لا أجده إلا عندك” – (كتاب المنتخب عن مختار الحكم والأثر، صفحة 198)
Umar bin Abdul Aziz berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku tidak mencintai dunia, tapi aku mencintai untuk menjalankan hak di dalamnya yang aku tidak dapat menemukannya kecuali di sisi-Mu.”

8. قال معاوية بن قرة: “الذي يأمر الناس بطاعة الله تعالى فلا تطيعه في معصية الله ومن يأمرك بمعصية الله فلا تطعه” – (كتاب الفقه الأكبر لأبي حنيفة، صفحة 97)
Mu’awiyah bin Qurrah berkata: “Barangsiapa memerintahkan manusia untuk taat kepada Allah, maka janganlah kau taat kepadanya dalam maksiat kepada Allah. Dan barangsiapa memerintahkanmu untuk melakukan maksiat kepada Allah, maka janganlah kau taat kepadanya.”

9. قال مالك بن دينار: “إن كان يحسن الظن في الأئمة فكيف يحسن الظن فيمن أخذ مقامهم” – (كتاب المنتخب عن مختار الحكم والأثر، صفحة 137)
Malik bin Dinar berkata: “Jika kita harus berprasangka baik terhadap para pemimpin, maka bagaimana kita bisa berprasangka baik terhadap mereka yang menggantikan posisi mereka?”

10. قال سفيان الثوري: “لو أن قلوبنا صافية لظهرت أقوالنا” – (كتاب الزهد لابن أبي داود، صفحة 110)
Sufyan Ath-Thawri berkata: “Seandainya hati kita bersih, maka akan terlihat perkataan kita.”

Semoga bisa memberikan gambaran tentang bagaimana setiap pemimpin kaum muslimin ketika mereka berbuat kebaikan atau mereka perbuat kedholiman.

Memilih rukyah atau hilal?

 

  1. Perintah Rasulullah ﷺ untuk Mengamati Hilal secara Langsung:
    Rasulullah ﷺ bersabda: “صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين” (رواه البخاري ومسلم).
    Ini menunjukkan pentingnya mengamati hilal secara langsung.
  2. Pengakuan Keterangan Mata sebagai Bukti:
    Rasulullah ﷺ juga bersabda: “لا تصوموا حتى تروا الهلال، ولا تفطروا حتى تروه” (رواه مالك). Hal ini menegaskan pentingnya keterangan mata sebagai bukti dalam menentukan awal bulan.
  3. Konsistensi dengan Al-Quran:
    Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah (2:189): “يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ”
    menekankan pentingnya bulan sebagai tanda waktu bagi manusia dan untuk ibadah haji.
  4. Mencegah Keberadaan Syak (Keraguan):
    Rukyah hilal langsung menghilangkan syak dan kontroversi, sementara hisab dapat menimbulkan keraguan dan perbedaan pendapat.
  5. Mengikuti Tradisi Salafus Shalih:
    Para sahabat dan generasi salafus shalih lebih memilih rukyah hilal daripada hisab sebagai metode penetapan awal bulan.

Referensi:

  • صحيح البخاري، كتاب الصوم، رقم الحديث: 1909
  • صحيح مسلم، كتاب الصوم، رقم الحديث: 1081
  • الموطأ للإمام مالك، كتاب الصوم، رقم الحديث: 6
  • تفسير ابن كثير، تفسير سورة البقرة، الآية: 189

Cara Pendidikan anak

Pendidikan anak adalah

  1. Keterlibatan aktif: Libatkan diri dalam pendidikan anak dengan berkomunikasi secara terbuka tentang kegiatan sekolah, tugas, dan prestasi anak. Tunjukkan minat pada apa yang mereka pelajari dan berikan dukungan.
  2. Rutinitas belajar yang terstruktur: Buat jadwal belajar yang teratur di rumah untuk membantu anak membangun kebiasaan belajar yang baik. Pastikan mereka memiliki waktu yang cukup untuk istirahat, bermain, dan belajar.
  3. Stimulasi kreativitas: Dorong anak untuk belajar dengan cara yang menyenangkan dan kreatif, seperti melalui permainan, eksperimen, atau proyek seni. Ini membantu mereka mempertahankan minat dan motivasi dalam pembelajaran.
  4. Pantau kemajuan: Ikuti perkembangan akademik anak secara teratur. Berkomunikasi dengan guru mereka dan hadiri rapat sekolah untuk memahami bagaimana Anda dapat mendukung perkembangan anak di sekolah dan di rumah.
  5. Model peran positif: Jadilah contoh yang baik bagi anak-anak Anda dengan menunjukkan pentingnya pendidikan dan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Bacalah bersama mereka, ajak mereka mengikuti kegiatan yang mendukung pembelajaran, dan berikan pujian atas usaha mereka.

Mendidik anak sesuai dengan fitrah dalam Islam

Mendidik anak sesuai dengan fitrah dalam Islam adalah tanggung jawab besar bagi orang tua, dan Al-Quran serta Sunnah memberikan banyak panduan mengenai hal ini. Berikut adalah enam tips penting, disertai dengan dalil dan referensinya:

### 1. **Menanamkan Tauhid (Keimanan) Sejak Dini**
Menanamkan tauhid atau keesaan Allah sejak dini merupakan fondasi penting dalam pendidikan anak.

– **Dalil Al-Quran:**
– *”Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'”* (QS. Luqman: 13)
– **Dalil Hadis:**
– Rasulullah ﷺ bersabda: *”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”* (HR. Bukhari dan Muslim)

### 2. **Memberikan Teladan yang Baik**
Orang tua harus menjadi teladan yang baik dalam segala aspek kehidupan, karena anak cenderung meniru apa yang mereka lihat.

– **Dalil Al-Quran:**
– *”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”* (QS. Al-Ahzab: 21)
– **Dalil Hadis:**
– Rasulullah ﷺ bersabda: *”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (orang lain).”* (HR. Ahmad, Thabrani)

### 3. **Mengajarkan Akhlak Mulia**
Penting untuk mendidik anak dengan akhlak mulia dan membiasakan mereka untuk berperilaku baik.

– **Dalil Al-Quran:**
– *”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”* (QS. Al-Qalam: 4)
– **Dalil Hadis:**
– Rasulullah ﷺ bersabda: *”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”* (HR. Bukhari)

### 4. **Membangun Kebiasaan Ibadah**
Mengajarkan dan membiasakan anak dengan ibadah sehari-hari seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Quran sejak kecil.

– **Dalil Al-Quran:**
– *”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.”* (QS. Thaha: 132)
– **Dalil Hadis:**
– Rasulullah ﷺ bersabda: *”Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat saat mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka tidak melakukannya pada umur sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.”* (HR. Abu Dawud)

### 5. **Mendidik dengan Kasih Sayang dan Kelembutan**
Memberikan pendidikan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, bukan dengan kekerasan atau paksaan.

– **Dalil Al-Quran:**
– *”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”* (QS. Ali Imran: 159)
– **Dalil Hadis:**
– Rasulullah ﷺ bersabda: *”Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.”* (HR. Bukhari dan Muslim)

### 6. **Memberikan Pendidikan dan Pengetahuan yang Luas**
Mendidik anak dengan ilmu pengetahuan dunia dan agama untuk bekal kehidupan mereka di masa depan.

– **Dalil Al-Quran:**
– *”Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'”* (QS. Thaha: 114)
– **Dalil Hadis:**
– Rasulullah ﷺ bersabda: *”Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.”* (HR. Ibnu Majah)

### **Kesimpulan**
Mendidik anak sesuai fitrah yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunnah berarti memperhatikan berbagai aspek perkembangan mereka, mulai dari aspek spiritual, moral, hingga intelektual. Dengan memegang teguh panduan ini, orang tua dapat membantu anak-anak tumbuh menjadi individu yang bertakwa, berakhlak mulia, dan berpengetahuan luas.

Referensi tambahan dapat diambil dari buku-buku fiqh tentang pendidikan anak dalam Islam serta tafsir Al-Quran dan kumpulan hadis sahih yang membahas tema pendidikan.

Imam Ahmad bin Hambal

Imam Ahmad bin Hambal adalah salah satu dari empat imam mazhab besar dalam Islam (Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal). Ia adalah pendiri Mazhab Hambali, yang dikenal sangat kuat dalam berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta menolak penggunaan akal secara bebas dalam menetapkan hukum-hukum agama.

📜 Profil Singkat

  • Nama lengkap: Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Abu ‘Abdillah al-Shaybani
  • Lahir: Tahun 164 H (780 M) di Baghdad
  • Wafat: Tahun 241 H (855 M) di Baghdad
  • Mazhab: Hambali

🧠 Keilmuannya

Imam Ahmad terkenal dengan hafalan dan pemahamannya yang luar biasa terhadap hadits. Beliau menghafal ratusan ribu hadits dan menjadi rujukan utama dalam bidang ini. Salah satu karyanya yang paling monumental adalah “Musnad Ahmad bin Hanbal”, yang berisi lebih dari 30.000 hadits.

Beliau adalah murid dari Imam Syafi’i, dan sangat menghormatinya. Namun, dalam beberapa hal, beliau mengambil pendirian yang berbeda, sehingga muncullah Mazhab Hambali.


💪 Ujian Keteguhan Iman: Mihnah (Inkuisisi)

Salah satu kisah paling terkenal dari Imam Ahmad adalah ketika ia menghadapi ujian besar dari Khalifah Al-Ma’mun (dan penerusnya) dalam peristiwa yang dikenal sebagai Mihnah.

  • Konteks: Pemerintahan Abbasiyah saat itu mendukung paham Mu’tazilah, yang mengajarkan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (bukan Kalamullah yang qadim).
  • Para ulama dipaksa untuk menyetujui pandangan ini. Banyak yang tunduk karena takut disiksa atau dibunuh.
  • Imam Ahmad menolak, meski dipenjara dan disiksa berat selama bertahun-tahun.

Keteguhannya menjadi simbol keberanian dan keikhlasan dalam membela aqidah yang benar. Akhirnya, ia dibebaskan dan dihormati oleh umat Islam sebagai pahlawan aqidah.


🌟 Akhlaq dan Keteladanan

  • Hidup sederhana dan zuhud.
  • Tidak mencari kedudukan atau harta dari penguasa.
  • Sangat rendah hati, meskipun dikenal luas dan diikuti banyak murid.
  • Memaafkan orang yang pernah menyiksanya, termasuk para algojo.

📚 Warisan Ilmiah

  • Mazhab Hambali menjadi mazhab resmi di beberapa wilayah seperti Arab Saudi hingga saat ini.
  • Musnad Ahmad, salah satu koleksi hadits terbesar yang pernah disusun.

🪦 Wafat

Ketika beliau wafat, lebih dari 800.000 orang menghadiri jenazahnya di Baghdad — pertanda besarnya kecintaan umat kepada beliau.


Apakah kamu ingin kisah ini ditulis lebih panjang, atau ingin versi cerita untuk anak-anak, khutbah, atau cerpen?

Perang Khandaq: Peristiwa, Strategi, dan Hasil

Perang Khandaq: Peristiwa, Strategi, dan Hasil

Perang Khandaq, juga dikenal sebagai Perang Ahzab, terjadi pada tahun ke-5 Hijriyah (sekitar 627 M) antara pasukan Muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad ﷺ melawan pasukan gabungan (Ahzab) yang terdiri dari suku Quraisy, Yahudi Bani Nadhir, dan sekutu mereka. Perang ini disebut “Khandaq” karena umat Islam menggali parit (khandaq) sebagai strategi pertahanan di sekitar Madinah.


Latar Belakang Perang Khandaq

Setelah kekalahan Quraisy dalam Perang Uhud (625 M), mereka masih menyimpan dendam terhadap umat Islam. Beberapa kelompok Yahudi yang telah diusir dari Madinah, terutama Bani Nadhir, juga berusaha membalas kekalahan mereka. Kaum Yahudi ini bersekutu dengan Quraisy dan suku-suku Arab lainnya, membentuk pasukan besar untuk menyerang Madinah.

Beberapa faktor yang melatarbelakangi perang ini:

  1. Keinginan Quraisy membalas kekalahan di Perang Badar dan Uhud.
  2. Hasutan dari Yahudi Bani Nadhir, yang ingin kembali ke Madinah setelah diusir.
  3. Kekhawatiran suku-suku Arab terhadap semakin berkembangnya Islam.

Persiapan Umat Islam: Strategi Parit

Mendengar rencana serangan besar dari pasukan gabungan, Nabi Muhammad ﷺ segera bermusyawarah dengan para sahabat. Salman Al-Farisi, seorang sahabat dari Persia, mengusulkan strategi menggali parit besar (khandaq) di sisi utara Madinah, yang merupakan satu-satunya jalur terbuka untuk serangan musuh.

Rincian strategi parit:

  • Panjang sekitar 5.5 km, lebar 4.5 meter, dan kedalaman 3 meter.
  • Ditempatkan di bagian utara Madinah, karena bagian lain dikelilingi oleh pegunungan dan kebun-kebun.
  • Parit ini menjadi penghalang utama bagi pasukan berkuda Quraisy, karena mereka tidak bisa menyeberanginya.

Selama sekitar satu bulan, kaum Muslimin bekerja keras menggali parit ini, dengan Nabi Muhammad ﷺ ikut membantu secara langsung.


Jalannya Perang

1. Pasukan Ahzab Mengepung Madinah

Pada bulan Syawal 5 H, pasukan gabungan yang berjumlah 10.000 orang tiba di Madinah. Mereka terdiri dari:

  • Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb.
  • Suku Ghathafan dipimpin oleh Uyainah bin Hisn.
  • Yahudi Bani Nadhir dan sekutu lainnya.

Sementara pasukan Muslim hanya berjumlah sekitar 3.000 orang. Namun, parit yang telah digali menghalangi pasukan musuh untuk menyerbu Madinah secara langsung.

2. Perang Bertahan dan Duel Antar Pejuang

  • Pasukan Ahzab tidak bisa menerobos Madinah karena adanya parit.
  • Mereka hanya bisa mengepung dan melemparkan panah serta batu ke dalam kota.
  • Beberapa upaya menyeberangi parit gagal, termasuk usaha dari panglima Quraisy, Amr bin Abd Wudd, yang akhirnya dibunuh oleh Ali bin Abi Thalib dalam duel.

3. Pengkhianatan Bani Quraizhah

  • Yahudi Bani Quraizhah, yang awalnya netral, berkhianat dengan mencoba menyerang dari dalam.
  • Namun, upaya ini digagalkan oleh strategi diplomasi Nabi ﷺ dan pasukan Muslim.

4. Kemenangan Umat Islam melalui Pertolongan Allah

Setelah hampir satu bulan pengepungan:

  • Pasukan Ahzab mulai kelelahan dan kehabisan perbekalan.
  • Allah mengirim badai besar yang menghancurkan tenda dan peralatan perang mereka.
  • Pasukan Ahzab akhirnya mundur tanpa pertempuran besar, menjadikan umat Islam sebagai pemenang.

Hasil dan Dampak Perang Khandaq

  1. Kekalahan Pasukan Ahzab: Ini adalah pukulan telak bagi Quraisy dan sekutunya. Mereka tidak pernah lagi mencoba menyerang Madinah secara besar-besaran.
  2. Pengaruh Islam semakin kuat: Keberhasilan bertahan dari serangan besar ini meningkatkan kedudukan Islam di mata suku-suku Arab.
  3. Bani Quraizhah dihukum: Setelah pengkhianatan mereka terbukti, kaum Muslim mengepung benteng Bani Quraizhah. Mereka akhirnya dihukum berdasarkan keputusan Sa’ad bin Mu’adz.

Kesimpulan

Perang Khandaq menunjukkan bagaimana kecerdasan strategi, kepemimpinan yang baik, dan keimanan yang kuat bisa mengatasi tantangan besar. Dengan strategi parit, umat Islam berhasil bertahan dari pasukan musuh yang jauh lebih besar.


Referensi

  1. Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah
  2. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah
  3. Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Ar-Raheeq Al-Makhtum

Kenapa Harus Memilih Sekolah Sunnah ?

Perkembangan zaman akan menjadikan kita menepi pada jalan nyaman dan tenang, begitulah gambaran pendidikan saat ini banyak orang yang sudah mulai kehilangan arah untuk mendapatkan pendidikan yang layak buat anaknya. Permasalah bukan hanya pada masalah orangtua yang minim akan pengetahuan dan kebutuahan anak untuk masa depan sehingga berdmpak pada pendidikan.

 

Berikut adalah 5 alasan mengapa memilih sekolah sunnah, beserta dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah:

1. Mengajarkan Tauhid dan Aqidah yang Benar

Sekolah sunnah fokus pada pendidikan tauhid dan aqidah yang sesuai dengan pemahaman salafus shalih, sehingga anak-anak diajarkan untuk mengenal Allah dengan benar dan beribadah hanya kepada-Nya tanpa ada penyimpangan.

Dalil:

  • Al-Qur’an: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS.Adz-Dzariyat : 56)
  • Hadits: “Barang mati siapa sedangkan dia mengetahui bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, maka dia masuk surga.” (HR.Muslim)

2. Mengikuti Manhaj Salaf

Sekolah sunnah berusaha menerapkan prinsip-prinsip Islam berdasarkan manhaj salaf (pendekatan generasi sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in), yaitu memahami agama sesuai dengan pemahaman generasi terbaik umat Islam.

Dalil:

  • Al-Qur’an: “Dan orang-orang yang terdahulu – yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah .” (QS. At-Taubah : 100)
  • Hadits: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Mengutamakan Akhlak dan Adab

Sekolah sunnah tidak hanya fokus pada ilmu pengetahuan, tetapi juga pada adab dan akhlak sesuai dengan tutunan Rasulullah ﷺ, mengajarkan nilai-nilai Islam dalam berinteraksi dan berperilaku sehari-hari.

Dalil:

  • Al-Qur’an : “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS.Al-Qalam : 4)
  • Hadits: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR.Ahmad)

4. Penerapan Pendidikan Berbasis Al-Qur’an dan As-Sunnah

Kurikulum di sekolah sunnah berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam. Hal ini memastikan bahwa pendidikan yang diberikan sesuai dengan syariat Islam.

Dalil:

  • Al-Qur’an: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa : 59)
  • Hadits: “Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR.Malik)

5. Melahirkan Generasi yang Sholeh dan Berilmu

Dengan penekanan pada ilmu syar’i, sekolah sunnah berusaha membentuk generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki ketakwaan kepada Allah serta siap menjadi pemimpin di masa depan.

Dalil:

  • Al-Qur’an: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah : 11)
  • Hadits: “Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkannya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)

Referensi:

  1. Al Quran Al Karim
  2. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
  3. Al-Muwaththa, karya Imam Malik
  4. Musnad Ahmad
  5. Kitab-kitab tafsir dan syarah hadits