Monthly Archives: January 2026

JURUS KILAT DALAM MENDIDIK ANAK

Pendidikan anak dengan kasih sayang merupakan suatu pendekatan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan mejadi modal yang sangat mulya dan angung dalam kehidupan bersosial. Untuk menjadikan generasi yang memiliki kekuatan dalam pola pikir maka dibutuhkan dengan pendekatan yang tidak biasa.

Layaknya dalam mendesain robot maka dibutuhkan mekanik yang handal dan prefesional dalam bidangnya. Begitu pula dalam mendidik generasi yang militan dan pemahaman yang baik sesuai dengan agama yang benar, maka pastinya butuh persiapan yang maximal agar bisa mencetak output yang sesuai keinginan.

Maka berikut ini cara mendidik anak dengan kasih sayang beserta dalil dari Al-Qur’an dan Hadits:

1. Memberikan Perhatian dan Kasih Sayang

 Rasulullah ﷺ memberikan perhatian yang besar kepada anak-anak dan menunjukkan kasih sayang yang mendalam kepada mereka. Hal ini tercermin dalam hadits:

من لا يرحم لا يرحم

“Barangsiapa yang tidak mengasihi (orang lain), ia tidak akan mendapat kasih sayang (dari Allah).” (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Adab, Hadits no. 6011.)

2. Memberikan Pendidikan Agama

   Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak mereka dalam hal agama. Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

3. Menjadi Teladan yang Baik

Orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Ini termasuk menunjukkan kasih sayang, kejujuran, kesabaran, dan perilaku yang baik secara umum. Rasulullah ﷺ bersabda:

   خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

 “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian bagi keluargaku.” (HR. Tirmidzi, Kitab Al-Birr was-Shilah, Hadits no. 3895.)

4. Memberikan Pendidikan Moral dan Etika

Pendidikan moral dan etika sangat penting dalam Islam. Orang tua harus mengajarkan anak-anak mereka untuk menjadi individu yang bertanggung jawab, jujur, dan berakhlak mulia. Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami perintahkan manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.” (QS. Luqman: 14)

Dengan mengikuti panduan-panduan di atas, orang tua dapat mendidik anak-anak mereka dengan kasih sayang sesuai dengan ajaran islam.

AKIDAH MU’TAZILA

Mu’tazilah adalah salah satu aliran pemikiran teologis dalam Islam yang muncul pada awal abad ke-8 Masehi. Mereka dikenal dengan keyakinan mereka tentang teologi rasional yang menekankan kebebasan manusia, dan penolakan terhadap konsep takdir yang mutlak. Namun, ada beberapa aspek aqidah Mu’tazilah yang sesat dari para Ulama, di antaranya adalah:

1. Qadariyah (Pemikiran Kebebasan Manusia): Mu’tazilah percaya bahwa manusia memiliki kebebasan mutlak dalam tindakan mereka, bahkan atas keputusan mereka sendiri, tanpa ada campur tangan Allah ta’ala. Ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mengakui takdir Allah yang mutlak dan kekuasaan-Nya atas segala sesuatu.

2. Tauhid al-Af’ali (Pemisahan Sifat-Sifat Allah): Mu’tazilah mengajarkan bahwa sifat-sifat Allah harus dipisahkan dari zat-Nya, sehingga menyatakan bahwa sifat-sifat Allah merupakan entitas yang terpisah dan independen dari zat-Nya. Hal ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan kesatuan dan kesempurnaan Allah.

3. Negasi Atribut Allah secara harfiyah: Beberapa dari mereka menolak secara harfiyah atribut Allah seperti wajah, tangan, dan mata, dan menyatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan Allah dengan atribut fisik tersebut harus dikontrol secara metaforis. Pandangan ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menyatakan bahwa ayat-ayat tersebut harus diterima secara harfiah sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an dan hadis.

=========== Wallahu ‘alam ===========

KISAH BUNDA AISYAH DENGAN FITNAH

Kisah fitnah terhadap Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنها adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah awal Islam yang tercatat dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ.

Pada suatu perjalanan kembali dari sebuah ekspedisi, Aisyah رضي الله عنها, istri Nabi Muhammad ﷺ, secara tidak sengaja tertinggal di belakang dan ditemani oleh seorang sahabat yang kemudian diberi julukan Safwan bin al-Mu’attal. Ketika mereka kembali ke tempat perkemahan, para musuh Islam yang ingin mencari-cari celaan terhadap Nabi ﷺ dan para sahabatnya, memanfaatkan kesempatan ini untuk menyebar fitnah bahwa Aisyah رضي الله عنها berselingkuh dengan Safwan.

Fitnah ini menyebar dengan cepat, menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat Muslim. Bahkan, beberapa orang munafik turut menyebarkan fitnah ini dengan tujuan merusak citra Islam dan keluarga Nabi Muhammad ﷺ.

Nabi Muhammad ﷺ sendiri sangat terpukul oleh fitnah ini. Aisyah رضي الله عنها merasa sangat sedih dan terluka oleh tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar tersebut. Namun, dalam kesulitan itu, Allah SWT memberikan jaminan dan membela kehormatan Aisyah رضي الله عنها.

Allah ta’ala memerintahkan agar para sahabat yang mendengar fitnah itu tidak menyebarkannya lebih lanjut tanpa verifikasi yang jelas. Al-Qur’an menegaskan kesucian Aisyah رضي الله عنها dan menegur orang-orang yang menyebar fitnah tersebut.

Nabi Muhammad ﷺ, atas petunjuk dari Allah ta’ala, memberikan klarifikasi publik tentang kesucian Aisyah رضي الله عنها. Pada akhirnya, kebenaran terungkap, dan para penyebar fitnah itu dihukum sesuai dengan kesalahan mereka.

Kisah fitnah terhadap Aisyah رضي الله عنها adalah pelajaran bagi umat Islam untuk tidak mudah percaya pada fitnah dan gosip, serta pentingnya untuk mencari kebenaran sebelum menyebarluaskan informasi. Kisah ini juga menunjukkan tingginya akhlak dan kesabaran Aisyah رضي الله عنها dalam menghadapi cobaan yang begitu berat.

KUALITAS SABAR

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allâh, supaya kamu beruntung. [Ali ‘Imrân/3:200]

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Mereka diperintahkan agar bersabar di atas agama mereka yang telah Allâh Azza wa Jalla ridhai untuk mereka, yaitu agama Islam. Jangan sampai mereka meninggalkannya dengan sebab senang atau susah, sengsara atau sejahtera, sehingga mereka bisa mati dalam keadaan sebagai orang-orang Islam. Dan agar mereka menambah kesabaran menghadapi musuh-musuh yang menyembunyikan agama mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir, surat Ali ‘Imrân/3: 200]

Syaikh Salîm bin ‘Ied al-Hilâli –hafizhahullâh- berkata, “Allâh Azza wa Jalla memerintahkan orang-orang yang beriman agar teguh di atas ketaatan kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan, ridha terhadap qadha’ dan takdir-Nya, dan mengalahkan musuh dengan kesabaran. Jangan sampai musuh lebih sabar dan lebih tahan daripada orang-orang yang beriman. Allâh juga memerintahkan bersiap siaga di perbatasan negeri untuk menjaga daerah Islam dan menolak penyerangan orang-orang kafir”. [Bahjatun Nâzhirîn Syarah Riyâdhus Shâlihîn 1/78]

KEDUDUKAN KESABARAN
Kesabaran memiliki kedudukan yang sangat agung dalam agama ini. Allâh Azza wa Jalla telah menyebutkan tentang kesabaran dalam al-Qur’ân sebanyak 90 kali, dan menyebutkan berbagai kebaikan dan derajat yang tinggi sebagai buah dari kesabaran.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا

Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. [al-A’râf/7:137]

Juga firman-Nya :

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Rabbmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan, dan bumi Allâh itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. [az-Zumar/39: 10]

Semua bentuk ibadah memiliki pahala yang ditentukan, kecuali kesabaran, pahalanya tanpa batas.

Allâh Azza wa Jalla juga menyediakan kumpulan keutamaan bagi orang-orang yang bersabar, Allâh Azza wa Jalla tidak kumpulkan keutamaan-keutamaan itu bagi selain mereka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴿١٥٥﴾الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ﴿١٥٦﴾أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [al-Baqarah/2:155-157]

PENYAKIT HATI DAN PENUH DOSA

Saudaraku yang di rahmati Allah ta’ala, banyak orang resah dan takut jika fisiknya cacat, wajah jerawatan, kulitnya hitam, dan penyakit-penyakit kulit yang lain, tapi jarang mereka menyadari bahwa cacatnya hati jauh lebih menakutkan daripada hanya sekedar cacatanya fisik. Jika catatnya fisik, kulit maka potensi hilangnya kenikmatan dunia, tapi jika yang cacat adalah hati, padahal hati adalah sumber kenikmatan dan kebahagian, maka bagaimana ia akan merasakan kemikmatan yang sejati.
Kondisi hati akan mempengaruhi kinerja dhohir (fisik), permasalahan hati akan menjadikan semangat dan tidaknya diri kita. Jika menjaga fisik adalah kelaziman(keharusan) maka menjaga hati juga demikian, bahkan lebih daripada hanya menjadi fisik, karena pancaran hati yang baik, akan mengelurkan kebaikan dalam bentuk dhohir. Nabi Muhammad bin Abdillah shollahu alaihi wassalam pernah mengingatkan;

أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ

Artinya, “ Ketauhilah, bahwa dalam jasad ada segumpal daging, jika daging itu baik, maka seluruh jasad akan menjadi baik, tapi jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa itu adalah hati. ”( HR. Buhkory dalam al-iman 1/127, Muslim dalam al-masafah 11/26 ).
Hadits yang mulya ini menjelaskan bahwa hati sebagai raja dalam anggota tubuh manusia, ia memperintahkan apa yang terpatri dalam hati. Kondisi hati akan menjadikan manusia menjadi baik atau sebaliknya. Maka disinilah fungsi hati dalam beramal kebaikan. Allah berfirman,

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Artinya, “ Pada hari (kiamat) tidaklah manfaat harta dan anak, kecuali orang yang datang dengan hati yang baik (bersih). (QS. As-Syua’ro’: 89-90).
           Saudaraku dimanapun antum berada, begitu besarnya hati memiliki pengaruh terhadap keberadaan kelangsungan kehidupan manusia, bahkan harta anak yang kita punya, sesuatu yang kita banggakan di dunia tidak bisa memberikan manfaat di hadapan Allah subhanahuwata’ala, padahal kedua hal ini adalah salah satu investasi yang sangat berharga setelah kita dipanggil Allah subhanahuwata’ala. Dalam sebuah Hadis nanti Muhammad shalallahu alahi wasallam bersabda;
Artinya “apabila anak Adam telah meninggal dunia maka seluruh amalnya akan terputus kecuali tiga hal; shodakoh jariyah(mengalir), ilmu yang bermanfaat, anak Sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya.”
            Hadis yang mulia ini menjelaskan, bahwa sesuatu yang bermanfaat bisa tidak memberikan manfaat sedikitpun ketika pemilik hati tersebut dalam kondisi hati yang tercela, hati yang rusak, hati yang sakit, dan hati yang mati. Maka renungkanlah sodaraku, kita kebahagiaan bagaimana hati kita itu sendiri.

PUASA MUHARRAM (Puasa As-Suro’)

Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim 1163)
Catatan Penting :
1. Imam An Nawawi mengatakan, “Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah.” (Syarah Shahih Muslim, 8:55)
2. As-Suyuthi mengatakan, Dinamakan syahrullah –sementara bulan yang lain tidak mendapat gelar ini– karena nama bulan ini “Al-Muharram” nama nama islami. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Nama-nama bulan lainnya sudah ada di zaman jahiliyah. Sementara dulu, orang jahiliyah menyebut bulan Muharram ini dengan nama Shafar Awwal. Kemudian ketika Islam datanng, Allah ganti nama bulan ini dengan Al-Muharram, sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada dirinya (Syahrullah). (Syarh Suyuthi ‘Ala shahih Muslim, 3:252)
c. Bulan ini juga sering dinamakan: Syahrullah Al Asham [arab: شهر الله الأصم ] (Bulan Allah yang Sunyi). Dinamakan demikian, karena sangat terhormatnya bulan ini (Lathaif al-Ma’arif, Hal. 34). karena itu, tidak boleh ada sedikitpun friksi dan konflik di bulan ini.
d. Ada satu hari yang sangat dimuliakan oleh para umat beragama. Hari itu adalah hari Asyura’. Orang Yahudi memuliakan hari ini, karena hari Asyura’ adalah hari kemenangan Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya. Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, beliau menceritakan,

لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا ، يَعْنِى عَاشُورَاءَ ، فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ ، وَهْوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى ، وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ ، فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ . فَقَالَ « أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari)
e. Para ulama menyatakan bahwa bulan Muharram adalah adalah bulan yang paling mulia setelah Ramadhan
Hasan Al-Bashri mengatakan,

إن الله افتتح السنة بشهر حرام وختمها بشهر حرام فليس شهر في السنة بعد شهر رمضان أعظم عند الله من المحرم وكان يسمى شهر الله الأصم من شدة تحريمه

Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 34)

MUQODDIMAH PENDIDIKAN SUAMI-ISTRI

Islam telah mengatur konsep dalam kehidupan manusia dari perkara jihad sampai masalah Istinja’(bersuci) semua telah di jelaskan Al-Quran dan Assunnah. Lebih-lebih lagi terkait dengan perkara yang setiap hari kita berjumpai, berinteraksi, berkomunikasi pastinya Islam menjelaskan dan mengatur konsep tersebut. Pernikahan adalah perkara yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian, bukan hanya memikirkan bab zifaf (malam pertama) saja. Pernikahan jauh lebih luas daripada hanya sekedar membahas bab zifaf, problematika dan kasus yang ada dalam Bahtera rumah tangga sangatlah kompleks kalau kemudian tidak diimbangi dengan pengetahuan ilmu agama yang baik, serta tidak ada penerapan syariat dalam kehidupan untuk menuju bahtera rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah maka besar kemungkinan terjadinya huru-hara, malapetaka, dan keretakan dalam rumah tangga.

Pentingnya untuk memberikan sebuah pendidikan terhadap pasangan dalam memahami tujuan dari pada pernikahan sehingga terwujud keluarga yang senantiasa memiliki tujuan besar mendapatkan surga Allah ta’ala, bukankah Allah ta’ala telah berfirman kepada orang orang yang beriman untuk senantiasa menjaga dirinya, keluarganya dari Jilatan api neraka,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [1]

Permasalahan retaknya rumah tangga bahkan terjadi perceraian dalam rumah tangga, lantara pengetahuan ilmu Agama yang minim, jauhnya mereka dari pancaran ilmu agama, serta tidak mengenal syariat dengan baik, dan tidak mengenal tentang pendidikan suami istri. Banyak orang menikah dan menjalin hubungan bukan karena berdasarkan Agama dan juga tidak menimbang maslahat dan mahdorot. Terkadang hanya berdasarkan hawa nafsu, tidak memiliki visi misi yang jelas dalam membangun bahtera rumah tangga.

Mengenal pasangan dengan ilmu merupakan washila untuk menjadikan hubungan keluarga menjadi sakinah, mawadah dan juga meminimalisir terjadi kemahdhorotan yang lebih besar, serta untuk menjaga hubungan rumah tangga menjadi hubungan yang harmonis, dan langgeng. Maka perlu adanya sebuah tahapan serta pengetahuan ilmu untuk menjadikan bahtera rumah tangga itu menjadi indah.

Maka dalam buku ini, penulis akan menjelaskan bagaimana pendidikan suami istri dalam perspektif Islam, sehingga bisa menjadi salah satu alternatif bagi pembaca untuk mendesain rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah. Dan pastinya buku ini masih sangat banyak kekurangan tapi penulis berharap semoga dengan hadirnya buku yang sederhana ini bisa memberikan manfaat yang luas kepada para keluarga wabil khusus bagi kita yang belum masukan pernikahan dan membaca buku yang sederhana ini sebagai salah satu referensi untuk mendapatkan ilmu terkait dengan pendidikan suami-istri.


[1] QS. At-Tahrim ayat 6.

APA ITU AKIDAH DAN MANHAJ ?

 Dalam kajian Ahlussunnah Wal Jamaah perkara perkara yang bersifat idiologi keyakinan maka dibutuhkan Pemahaman yang benar untuk menjadikan seseorang itu paham dan melek terhadap definisi dan tarif sebelum ia mengamalkan dan dakwahkan apa yang jadi hajatnya.

Tidaklah ragu bahwa sebagian da’i manhaj dakwah yang baru (yaitu dakwah yang mengikuti salaf dalam pokok-pokok aqidah saja, tidak dalam seluruh sisi agama) bersepakat dengan kita dalam “pokok-pokok aqidah”, artinya mereka mengakui aqidah sesuai dengan metode ulama salaf, baik yang berkaitan dengan tauhid uluhiyah, tauhid asma ‘wa shifat dan berbagai pembahasan iman yang lain.

Saya katakan “pokok-pokok aqidah” karena di sana ditemukan perbedaan dalam menerapkan beberapa rincian aqidah. Misalnya tauhid uluhiyah dengan tauhid hakimiyah/mulkiyah. (pendapat) yang membedakan dua tauhid diatas, di zaman ini, mula-mula dinukil dari tulisan-tulisan Abul A’la al Maududi, Sayid Qutb, kemudian saudaranya, yaitu Muhammad Qutb, dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Para da’i itu mengambil pendapat mereka, yang hal ini sesuai dengan hasrat para pemuda yang sedang tumbuh semangat dan emosi mereka. Mereka senang mendapatkannya, menjadikannya sebagai tema dakwah serta simbol manhaj mereka.

Andaikan mereka mau sejenak merenungkan, niscaya akan mengetahui kesalahan istilah tauhid hakimiyah dari dua segi :

Istilah tersebut adalah istilah baru yang tidak ada faedahnya, kecuali hanya membesar-besarkan beberapa masalah daripada masalah-masalah lainnya.
Tauhid hakimiyah, yang menurut mereka adalah makna dari firman Allah:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Tidaklah menetapkan hukum itu melainkan hak Allah” [Al-An’aam/6 : 57]

Adalah bagian dari keumuman makna tauhid uluhiyah. Ini adalah suatu yang sangat jelas. Kalau demikian, membedakannya adalah perbuatan sia-sia.

Tauhid uluhiyah adalah aspek paling penting dalam dakwah para Rasul sebagaimana yang dipaparkan Al-Quran. Tauhid ini merupakan tema konflik yang terjadi antara para Rasul dengan para penentang dan musuh mereka di setiap umat. Tauhid ini hingga sekarang menjadi tema konflik antara pembela kebenaran dan pendukung kesesatan. Bahkan mungkin hal ini akan terus berlangsung sampai hari kiamat. Sebagai ujian bagi ahli waris para Rasul dan sebagai sarana untuk meninggikan kedudukan mereka di hadapan Allah.

Pemisahan tauhid uluhiyah dengan hakimiyah ini menyebabkan prioritas dakwah Islam menjadi berantakan. Dalam kitab “Al-Usus Al-Akhlaqiyyah” Al-Maududi menyatakan: “Tujuan hakiki agama (Islam) adalah menegakkan sistem imamah/kepemimpinan yang shalih lagi terbimbing“.

Ini adalah ucapan yang tidak berdasar, karena tujuan hakiki agama ini, tujuan penciptaan jin dan manusia, tujuan para Rasul diutus dan tujuan berbagai kitab samawi diturunkan adalah beribadah kepada Allah dan memurnikan ketundukan kepadaNya.

Meski demikian, bentuk perpecahan nampak jelas dalam manhaj dan metode yang ditempuh para da’i tersebut untuk mewujudkan aqidah dan tujuannya. Inilah titik perbedaan antara dakwah salafiyah dengan dakwah-dakwah lainnya, yang hanya mengadopsi aqidah salafiyah namun menyelisihi manhajnya.

Untuk mengetahui perbedaan aqidah dengan manhaj, saya katakan:

Allah Ta’ala berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk setiap kalian, kami jadikan manhaj dan syariat yang berlainan“[Al Maidah/5: 48]

Ibnu Abbas berkata, ‘Jalan dan sunnah‘[1].

Ibnu Katsir dalam tafsirnya 2/105 menyatakan : “Ayat ini berisi informasi tentang berbagai umat yang berbeda-beda agamanya, dari sisi perbedaan syariat dalam hukum amaliah, tetapi sama dalam masalah tauhid“.

Barokalloh fiikum semoga Allah jadikan ilmu kita dan ilmu kaum muslimin bermanfaat untuk dunia dan lebih lebih akherat.

Al-Quran Sebagai Penyembuh, Apa Maksudnya?

Di dalam surat Yunus, Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

Indah sekali, Allah sebut al-Quran sebagai,

  • Mau’idzah (nasehat) dari Rab kita
  • Syifa’ (penyembuh) bagi penyakit hati
  • Huda (sumber petunjuk)
  • Rahmat bagi orang yang beriman.

Ibnu Katsir mengatakan,

“وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ” أي: من الشُبَه والشكوك، وهو إزالة ما فيها من رجس ودَنَس

“Syifa bagi penyakit-penyakit dalam dada” artinya, penyakit syubhat, keraguan. Hatinya dibersihkan dari setiap najis dan kotoran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/274).

Di ayat lain, Allah berfirman,

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آَمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آَذَانِهِمْ وَقْرٌ

Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan. (QS. Fushilat: 44)

Makna dua ayat ini saling melengkapi. Keterangan global di suat Fushilat, didetailkan dengan keterangan di surat Yunus. Sehingga yang dimaksud al-Quran sebagai syifa bagi orang yang beriman, adalah obat bagi segala penyakit hati.

Kita simak keterangan Imam as-Sa’di,

Al-Quran adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa penyakit syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat. Atau penyakit Syubuhat, yang mengotori aqidah dan keyakinan. Karena dalam al-Quran terdapat nasehat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman, yang akan memicu perasaan harap dan sekaligus takut, bagi para hamba.

Jika muncul dalam perasaannya, motivasi untuk berbuat baik, dan rasa takut untuk maksiat, dan itu terus berkembang karena selalu mengkaji makna al-Quran, itu akan membimbing dirinya untuk lebih mendahulukan perintah Allah dari pada bisikan nafsunya. Sehingga dia menjadi hamba yang lebih mencari ridha Allah dari pada nafsu syahwatnya.

Demikian pula berbagai hujjah dan dalil yang Allah sebutkan dengan sangat jelas. Ini akan menghilangkan setiap kerancuan berfikir yang menghalangi kebenaran masuk dalam dirinya dan mengotori aqidahnya. Sehingga hatinya sampai pada puncak derajat keyakinan.

Ketika hati itu sehat, tidak banyak berisi penyakit syahwat dan syubhat, keadaannya akan diikuti oleh anggota badannya. Karena anggota badan akan jadi baik, disebabkan kebaikan hati. Dan menjadi rusak, disebabkan rusaknya hati.

(Tafsir as-Sa’di, hlm. 366)